BREAKING

Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe membebaskan pembayaran UKT atau Uang Kuliah Tunggal bagi 203 mahasiswa

 

Lhokseumawe – Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe membebaskan pembayaran UKT atau Uang Kuliah Tunggal bagi 203 mahasiswa yang terdampak banjir pada Tahun Akademik 2026/2027.

Pembebasan UKT ini diberikan kepada mahasiswa yang terdampak paling parah dari sekitar 1.200 lebih mahasiswa yang terkena dampak banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu. Data tersebut diperoleh dari hasil pendataan awal pihak kampus.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Darmadi mengatakan, mahasiswa yang terdampak paling parah kini sudah dapat mengisi KRS dan mengikuti perkuliahan meskipun belum membayar UKT.

Selain pembebasan bagi 203 mahasiswa tersebut, pihak kampus juga memberikan keringanan pembayaran UKT bagi mahasiswa terdampak lainnya dengan sistem cicilan. Kebijakan ini berlaku bagi mahasiswa jenjang S1, S2 hingga S3.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Focus Group Discussion yang digelar di ruang Op Room Biro Rektorat UIN SUNA Lhokseumawe. Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor UIN SUNA, Danial.

Dalam kesempatan itu, Rektor juga menyampaikan bahwa sebanyak 3.600 calon mahasiswa memilih UIN SUNA Lhokseumawe melalui jalur seleksi SPAN-PTKIN. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.134 calon mahasiswa menjadikan UIN SUNA sebagai pilihan pertama, sementara sekitar 2.600 lainnya sebagai pilihan kedua.

Selain itu, pihak kampus juga sedang menyiapkan sejumlah program studi baru untuk mendukung perkembangan pendidikan, di antaranya jurusan bisnis digital, data sains, informatika, dan sosiologi.

Rektor menambahkan, pada tahun 2028 UIN SUNA Lhokseumawe menargetkan pembentukan dua fakultas baru, yaitu Fakultas Sains dan Teknologi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora.

Demikian laporan Firdaus untuk CITIS FM Lhokseumawe.

Haji Uma, memfasilitasi pemulangan jenazah

Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang dikenal sebagai Haji Uma, memfasilitasi pemulangan jenazah warga Aceh Barat Daya yang meninggal dunia di Batam.
Jenazah sempat tertahan selama dua hari karena keterbatasan biaya keluarga. Melalui koordinasi dengan pihak kecamatan, Haji Uma membantu proses pemulangan dengan menyiapkan ambulans dari Bandara Internasional Kualanamu menuju kampung halaman.
Jenazah akhirnya tiba di Gampong Ujong Tanoh, Kecamatan Setia, dan dimakamkan oleh pihak keluarga. Keluarga almarhum menyampaikan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.

Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menggelar kegiatan SAPA PERS

Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menggelar kegiatan SAPA PERS sebagai ruang temu ide antara pihak kampus dan insan jurnalis. Forum ini menjadi wadah berbagi informasi sekaligus menyerap masukan publik demi pengembangan pendidikan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, pihak kampus mengangkat peluang beasiswa bagi anak nelayan dan masyarakat pesisir yang hingga kini kuotanya masih terbuka. Program ini diharapkan mampu memperluas akses pendidikan tinggi bagi kelompok yang membutuhkan dukungan pembiayaan.
Selain itu, turut dipaparkan jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun 2026 dengan target kuota sebanyak 1.500 mahasiswa. Kampus optimis target tersebut dapat tercapai melalui sosialisasi yang masif dan kolaborasi bersama media.
Wakil Rektor III, Dr. Darmadi, menegaskan bahwa UIN Sultanah Nahrasiyah merupakan universitas Islam dengan Uang Kuliah Tunggal atau UKT terendah di Sumatera. Namun demikian, hal tersebut tidak mengurangi kualitas layanan pendidikan yang diberikan.
Kolaborasi antara kampus dan media diharapkan menjadi jembatan informasi, membuka akses pendidikan yang lebih luas, serta memastikan setiap peluang pendidikan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

12 Pah Tangga Lagu Aceh Citis FM Edisi Sabtu, 24 Januari 2026


Lhokseumawe – Radio Citis FM Aceh 94,4 MHz kembali merilis 12 Pah Tangga Lagu Aceh edisi Sabtu, 24 Januari 2026, yang menampilkan deretan lagu-lagu Aceh terbaik dan terfavorit pilihan pendengar setia Citis FM.
Pada pekan ini, lagu “Ie Raya Teuka” yang dibawakan oleh Haji Uma berhasil menduduki posisi puncak tangga lagu Citis FM. Lagu tersebut terus mendapat respons positif dari pendengar dan menjadi salah satu lagu paling sering diputar selama sepekan terakhir.
Di posisi berikutnya, Nurul Munira dengan lagu “Hana Sipadan” menempati peringkat kedua, disusul Puep Suloh melalui lagu “Salah Meucinta” di posisi ketiga. Sementara itu, Mustafa Kamal dengan lagu “Meuligoe Sipanyeong Dua” bertahan kuat di jajaran lima besar.
Pendatang baru juga turut meramaikan tangga lagu minggu ini. Lagu “Pancuri Boh Sukon” dari M Rizal serta “Rasa” yang dibawakan Raehan resmi masuk sebagai new entry, menambah warna baru dalam industri musik Aceh.
Program 12 Pah Tangga Lagu Aceh disiarkan secara live setiap pekan dan menjadi wadah apresiasi bagi musisi Aceh untuk memperkenalkan karya terbaik mereka kepada masyarakat luas.
Pendengar setia dapat terus mendukung lagu favoritnya dengan request dan voting melalui siaran Radio Citis FM Aceh 94,4 MHz serta kanal resmi Citis FM.
🎶 Citis FM – Yang Terbaik Hanya Untuk Anda 🎶

Kisah Penyintas Banjir - Pisang Selamat dari Banjir dan Doa yang Tidak Pernah Putus

Kisah Penyintas Banjir - Pisang Selamat dari Banjir dan Doa yang Tidak Pernah Putus

Sabtu, 17 Januari 2026, bagi kami bukan sekadar tanggal. ini adalah janji yang akhirnya lunas. Janji yang berkali-kali ditunda, dibatalkan, lalu disimpan kembali dengan perasaan bersalah. Janji untuk menjenguk seorang kawan seangkatan kuliah, Qurrata Aina yang namanya kami dengar lebih sering lewat kabar banjir daripada lewat tawa di ruang kelas.
Banjir akhir 2025 itu, kata orang, datang tanpa sopan santun. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi aba-aba. Ia datang seperti tamu tak diundang yang menganggap semua rumah adalah miliknya. Muara Batu, Aceh Utara, termasuk wilayah yang disebut-sebut “kategori berat” sebuah istilah administratif yang terdengar rapi, tapi menyimpan cerita berantakan.
Pagi itu kami bangun lebih awal dari biasanya. Setelah salat subuh, tak seorang pun kembali ke kasur. Ada semangat yang membuat mata enggan terpejam, meski tubuh belum sepenuhnya sadar. Saya sarapan terburu-buru, mandi lebih lama dari biasanya, menggosok gigi seperti hendak wawancara kerja, lalu menyisir rambut dengan niat berlebihan. Seolah kerapian bisa menjadi bentuk empati.
Rival datang menjemput. “Saya sudah siap,” katanya singkat. Ari dan Kurdi pun sama siap secara moral, meski motor kami lebih cocok disebut siap pasrah.
Kami bertiga meluncur dari Lhokseumawe. Jalanan menyuguhkan lubang-lubang yang tampaknya ikut menjadi korban banjir, atau mungkin korban lama yang baru kami perhatikan. Menyalip lubang menjadi olahraga pagi. Salah hitung sedikit, bisa ikut masuk berita.
Empat puluh menit kemudian, kami tiba.
“Alhamdulillah hari ini bisa jumpa teman kami yang periang,” ujar Ari, dengan senyum lega yang tak bisa disembunyikan. Kata periang terasa penting seolah menjadi jaminan bahwa luka tidak sepenuhnya mengalahkan manusia.
Rumah Qurrata menyambut kami dengan keheningan yang sopan. Ia keluar, tersenyum, lalu mempersilakan masuk. Kami menolak halus. “Di luar saja,” kata kami. Angin banyak, katanya. Padahal kami tahu, ada luka yang lebih nyaman diceritakan di ruang terbuka.
Sebuah tikar digelar di gubuk kecil di depan rumah. Gubuk itu menghadap sawah, yang pagi itu tampak tenang, seakan tidak pernah menyimpan cerita air bah. Angin sepoi-sepoi berhembus, seperti ucapan selamat datang dari alam yang merasa sedikit bersalah.
Di sekitar kami, barang-barang berlumpur masih tergeletak. Ember, kayu, perabot semuanya seperti arsip visual tentang hari-hari ketika air lebih berkuasa daripada manusia.
Di sisi kanan gubuk, dua tandan pisang wak terbaring. Tidak sepenuhnya matang. Tidak pula busuk. Seperti menunggu waktu yang tepat.
“Ini pisang selamat dari banjir,” kata Qurrata sambil tersenyum. “Silakan dimakan. Insyaallah berkah.”
Kami tertawa. Tertawa yang cepat, seakan ingin menutup perasaan lain yang mulai naik ke tenggorokan. Kurdi langsung mengambil satu. “Kalau sudah dibilang berkah, haram hukumnya menolak,” katanya. Tawa pecah lagi.
Minuman berwarna merah disajikan. Gelas-gelas bening dengan embun tipis di dindingnya. Belum sempat tuan rumah mempersilakan, sebagian dari kami sudah mencicipi. “Godaan itu nyata,” ujar Rival, pura-pura menyesal.
Qurrata duduk bersama kakaknya. Cerita pun dimulai.
Saat banjir datang, Qurrata tidak di rumah. Ia masih di ma’had, di kawasan kampus di Lhokseumawe. Ia ingin pulang, tapi kabar yang datang justru kabar buruk. Wilayahnya disebut paling parah. Jaringan komunikasi terputus. Telepon menjadi benda mati.
“Hari-hari itu saya tidak bisa tidur,” katanya pelan. “Setiap malam tahajud. Berdoa supaya keluarga selamat.”
Ia berhenti sejenak. Matanya menatap sawah, bukan kami.
“Makan tidak selera. Rasanya mau nangis terus.”
Ilmu tetap dibaca, tapi hati tertinggal di rumah yang tidak bisa ia datangi.
Kisah lalu berpindah ke sang kakak. Suaranya lebih datar, seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk dramatis.
Air datang subuh Rabu, 26 November 2025. Selutut. Dingin. Gelap. Mereka bertiga ayah, ibu, dan kakak terbangun dan langsung bergerak. Tidak banyak kata. Tidak ada kepanikan yang sempat dipelajari. Hanya refleks menyelamatkan diri.
Mereka berpegangan tangan menuju meunasah. Arus kuat. Tubuh saling menjaga agar tidak terlepas. Kakak sempat mengambil baju untuk menghangatkan badan, juga untuk ganti. Sampai di meunasah, baju itu sudah basah. Semua basah.
Dua hari di meunasah tanpa makan. Hari ketiga, barulah ada biskuit. Dibeli dari kios desa tetangga yang selamat. Biskuit itu, kata sang kakak, terasa seperti makanan paling serius dalam hidupnya.
Dokumen penting saya selamat. Punya adik adik basah semua, rumah mereka berubah menjadi kolam kenangan yang tidak ingin diingat. Hampir sebulan mengungsi. Berminggu-minggu tidak mandi karena air bersih juga ikut menjadi korban.
Gubuk tempat kami duduk ini pun menyimpan kisah. Empat orang selamat di sini karena tidak sempat ke meunasah. Di pohon mangga tak jauh dari kami, empat warga lain bertahan hidup. Pohon itu kini berdiri biasa saja. Seolah lupa pernah menjadi tempat bergantung nyawa, kenang sang kakak sambil menunjuk pohon mangga.
Kami terdiam. Lalu tertawa lagi. Karena begitulah cara manusia bertahan, mencampur luka dengan humor agar tidak tenggelam sepenuhnya.
Waktu berjalan tanpa terasa. Pukul 13.00 WIB kami pamit. Azan Zuhur sudah dekat. Dalam perjalanan pulang, kami melihat rumah-rumah yang miring, tergerus, sebagian seperti menyerah pada tanah.
Terima kasih, kawan. Dalam musibah, kau masih menjamu kami. Dalam duka, kau tetap mempraktikkan peumulia jamee. Seharusnya kami yang datang membawa hidangan, bukan pulang membawa pelajaran.
Dan pisang yang selamat dari banjir itu rasanya kok beda ya, seperti buah yang diturunkan dari syurga untuk kami, tapi ceritanya akan lama tinggal di ingatan. Terimakasih qurrata semoga kamu kuat sabar dan tawakkal selalu pada-Nya!!!

Relawan Pemko Lhokseumawe Gotong Royong Tutup Lubang Jalan Nasional

Relawan Pemko Lhokseumawe Gotong Royong Tutup Lubang Jalan Nasional

Lhokseumawe - Relawan Pemerintah Kota Lhokseumawe bersama unsur organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan melaksanakan aksi gotong royong menutup sejumlah lubang pada ruas jalan nasional yang melintasi wilayah Kota Lhokseumawe, Kamis, 15-01-2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan sekaligus respon cepat atas kondisi jalan yang membahayakan.

Aksi gotong royong tersebut melibatkan relawan kemanusiaan Pemko Lhokseumawe, aparatur pemerintah, serta organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Dengan peralatan seadanya dan material penimbun sementara, para relawan menutup lubang-lubang jalan yang selama ini kerap memicu kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara roda dua.

Habibillah, SE., Koordinator Relawan Pemko Lhokseumawe menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah darurat untuk meminimalisir risiko kecelakaan sembari menunggu penanganan permanen dari instansi berwenang. “Keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Meski jalan nasional Medan-Banda Aceh merupakan kewenangan pemerintah pusat, kami merasa perlu hadir untuk mencegah jatuhnya korban,” ujarnya.

Ismail warga setempat menyambut positif aksi tersebut dan mengapresiasi kepedulian relawan Pemko Lhokseumawe. Menurut warga, kondisi jalan berlubang semakin parah pascahujan dan banjir beberapa waktu lalu, sehingga membutuhkan penanganan cepat.

Dr. Sayuti Abubakar, SH., MH., Wali Kota Lhokseumawe memberikan arahan kepada seluruh relawan melakukan kegiatan tanggap darurat terhadap keselamatan publik. Menurutnya, aksi gotong royong ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan kehadiran pemerintah di tengah persoalan masyarakat.
“Gotong royong ini adalah langkah darurat demi keselamatan masyarakat. Meski jalan nasional merupakan kewenangan pemerintah pusat, Pemerintah Kota Lhokseumawe tidak bisa tinggal diam ketika kondisi jalan berpotensi membahayakan warga, dan kami terus mendorong agar penanganan menyeluruh segera direalisasikan sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman,” ujar Wali Kota Lhokseumawe.

Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata semangat kolaborasi antara pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan fasilitas publik di Kota Lhokseumawe.

Kisah penyintas BanjirSarung Basah yang Selamat dari Banjir

Kisah penyintas Banjir
Sarung Basah yang Selamat dari Banjir

Hujan turun sejak siang, tanpa jeda, tanpa ragu, seolah langit sedang menunaikan tugas yang terlalu lama ditunda. Kamis, 27 November 25 itu, hujan menjadi latar yang dianggap biasa oleh warga BTN komplek perumahan BTN Beijing Mutiara residence 1 Desa Metro kp. Durian kecamatan Rantau kabupaten Aceh Tamiang Kuala Simpang, Kawasan ini dikenal cukup tinggi cukup aman, cukup jauh dari bayangan banjir. Terlalu jauh, bahkan, untuk menumbuhkan rasa curiga.
Rosmiati terlelap lebih cepat malam itu, dengan pakaian tidur paling romantis versi emak rumah tangga, daster kesayangannya,  menyerahkan tubuhnya pada dingin dan suara hujan yang terasa menenangkan. Sementara itu, suaminya, Surianto ( Anto- sapaannya ) masih sempat memantau keadaan sekitar pukul 23.00 WIB. Tak ada genangan. Tak ada tanda bahaya. hanya hujan yang setia.
Sekitar pukul 00.15 WIB, Anto akhirnya ikut merebahkan badan. Lelah bekerja seharian, Belum juga kepalanya benar-benar menyatu dengan bantal, teriakan itu membelah malam.
“Banjir! Banjir!”
Anto meloncat. Kakinya menyentuh lantai. Air sudah setinggi betis.
Anto  terdiam sejenak. Anehnya, ia tidak langsung membangunkan istrinya. Dalam benaknya yang masih setengah mengantuk, setengah panik, banjir setinggi itu belum pantas mengusik tidur perempuan yang ia cintai. Cuma segini, pikirnya. Biarlah istriku tidur nyenyak. Mungkin begitulah cinta bekerja sering kali tidak logis, bahkan di tengah ancaman.
Namun air tak mengerti perasaan manusia, sekitar pukul satu dini hari, genangan naik setinggi lutut. Kali ini Anto tak bisa lagi menunda. Ia membangunkan Ros sambil dengan lembut.
“Sayang, bangun. Air masuk rumah.”
Panik datang berdua. Kulkas diangkat ke dapur. Baju-baju diselamatkan dari lemari bawah. Mereka bekerja cepat, tergesa, seolah sedang berpacu dengan waktu yang bocor. Baru tiga puluh menit berjuang, jeritan dari luar rumah terdengar lebih liar.
“Ke bukit! Air besar!”
Malam itu, perumahan berubah menjadi kepanikan massal. warga berlarian sambil menangis. Ada yang menggendong bantal seolah mimpi masih bisa diselamatkan. Ada yang memikul beras. Ada yang menenteng sepatu. Dalam situasi seperti itu, logika tertinggal paling awal.
Anto menggenggam tangan Ros. Air sudah setinggi dada orang dewasa, lantai licin. Ros hampir terjatuh dan refleks berpegangan pada tubuh suaminya. Dalam kepanikan, yang terpegang justru bagian celana Anto. Sekali tarik celana itu melorot.
Seandainya bukan banjir. seandainya bukan malam yang menyerupai kiamat kecil. Mungkin itu akan jadi cerita lucu yang mereka tertawakan sambil ngopi di teras rumah.
Namun malam itu, tak ada yang lucu. Bagi warga perumahan BTN Beijing Mutiara residence 1 Desa Metro kp. Durian kecamatan Rantau kabupaten Aceh Tamiang, malam itu adalah hari ketika manusia berlari sambil menangis, bukan tertawa.
Mereka selamat namun rumah mereka porak poranda beserta isi didalamnya. Plafon runtuh. Lemari pakaian terendam. Springbed basah seperti spons putus asa. Televisi, kulkas, motor rusak berat. Laptop tertinggal, tenggelam bersama pekerjaan dan harapan kecil. Anto hanya membawa tas selempang kosong, ironi paling telanjang dari bencana yang penting sering tertinggal, yang tak penting justru terbawa ikut.
Di bukit pengungsian, tubuh mereka menggigil. Basah, lelah, dan kedinginan. Anto sempat ingin turun kembali ke rumah mengambil kain agar istrinya bisa hangat. Namun pintu rumah tak bisa dibuka. Arus air di teras mengamuk, kencang seperti kereta api cepat.
Beruntung, di jemuran tertinggal dua kain sarung yang sudah basah, tapi tetap berarti. Dengan kain itulah Anto menghangatkan tubuh Ros malam itu. Cinta, rupanya tidak seperti syair lagu yang butuh modal besar, kadang ia hanya berupa kain basah yang dipeluk erat agar seseorang tidak tumbang.
Di bukit itu, warga berkumpul tanpa atap. hanya daun-daun pohon kuda yang menjadi pelindung sementara. Baru keesokan harinya, tenda biru bantuan TNI didirikan. Tanpa dinding, tanpa kenyamanan yang penting tidak kehujanan. 
Hari-hari pengungsian dilalui dengan serba seadanya. Makan tak menentu. Buang hajat di sela rerumputan, cebok dengan air keruh bekas banjir yang tergenang. Gosok gigi pun tak sempat karena tertinggal bersama di rumah. Kesedihan itu terlalu dalam untuk sekadar diceritakan namun bisa dirasakan.
Setelah banjir surut tapi bekasnya tinggal lama di dinding, di perabot, di tubuh, dan di ingatan, namun di antara semua yang hanyut, ada satu hal yang tetap bertahan mereka masih bersama, dan kelak ketika luka sudah mengering, kisah celana melorot itu mungkin akan diceritakan sambil tersenyum kecil sebab dalam bencana, manusia kehilangan banyak hal, tetapi cinta sering kali memilih untuk tinggal bersama dan bersemi.
Kunjungan Keluarga Janji di Simpang Paya Bedi

Bencana itu datang seperti ingatan buruk yang tiba-tiba hidup kembali. Tahun 2025, banjir bandang dan longsor melanda Aceh dan dua provinsi lain di Sumatra dengan kedahsyatan yang membuat seorang gubernur menyebutnya lebih parah dari tsunami 2004. Jalan nasional terputus, jembatan roboh, tiang listrik tumbang seperti batang korek, jaringan komunikasi mati total. Malam-malam menjadi sunyi yang menakutkan, sunyi tanpa kabar.
Dalam sunyi itulah kegelisahan menjalar dari satu rumah ke rumah lain. Seorang ibu memikirkan anaknya, anak memikirkan orang tuanya, kakak merisaukan adiknya, adik mengingat kakaknya. Semua saling mengingat, tetapi tak bisa saling menghubungi. Listrik padam. Sinyal menghilang. Dunia mendadak terasa kembali ke tahun 1980-an, hidup hanya bergantung pada janji dan keyakinan.
Pekan kedua setelah banjir, jaringan mulai hidup tersendat. Kabar singkat akhirnya tiba, Rosmiati dan suaminya, Anto, selamat. Mereka mengungsi di wilayah pedalaman Aceh Tamiang. Kabar itu cukup untuk membuat keluarga besar menarik napas Panjang, lalu bersepakat untuk berangkat menbezuk, memastikan dengan mata sendiri bahwa kabar itu benar.
Musyawarah kecil dilakukan ditunjuklah salbiyah adik Rosmiati yang di Julok sebagai ketua rombongan (karom ), istilah sederhana untuk tanggung jawab yang besar. Rombongan dikumpulkan,  dari Lhokseumawe, Julok, hingga Bayeun. Anak-anak, orang tua, suami-istri, semua disatukan oleh satu tujuan, bertemu keluarga yang baru saja lolos dari amukan alam.
Pickup tua milik kakak Rosmiati dipilih sebagai kendaraan utama. Bukan kendaraan mewah, tapi paling masuk akal untuk medan yang belum pasti. Barang-barang dinaikkan, orang-orang menyusul. Dewasa dan anak-anak berdesakan di bak, menikmati angin alam dengan perasaan campur aduk, cemas, rindu, dan sedikit harap.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Jalan jebol, rumah rusak, pagar roboh. Tenda-tenda darurat berdiri seadanya di pinggir jalan. Anak-anak kecil meminta-minta makanan, bukan dengan rengekan, melainkan tatapan yang terlalu cepat dewasa. Pickup melaju perlahan, kadang menyalip lubang-lubang jalan seperti orang tua yang menghindari kenangan pahit.
Janji temu disepakati di Simpang Paya Bedi, Kuala Simpang. Tak ada telepon. Tak ada pesan, hanya janji lama, siapa yang lebih dulu tiba, menunggu, hujan atau panas, tetap menunggu.
Rombongan tiba lebih dulu. Menunggu. Sepuluh menit, dua puluh menit, empat puluh menit. Gelisah mulai merambat. takut jika salah simpang. takut jika janji terlewat begitu saja.
Lalu dari kejauhan, dua sosok muncul dengan menggunakan motor.
Rosmiati mengenakan celana bonggol, sepatu pacuk, dan kaos sederhana. Anto bercelana jeans dan kaos oblong, tas ransel di punggung. Wajah mereka lelah, kurang tidur, tetapi anehnya tetap memancarkan ketenangan orang-orang yang sudah melewati batas takut.
Pertemuan itu pecah seperti bendungan emosi. tangis dan tawa berbaur. Pelukan panjang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Mama, kakak, adik, sepupu semua saling memastikan bahwa yang dipeluk ini nyata, masih hidup, masih bernapas.
Di tengah pelukan, Rosmiati menjerit kecil, aduhhh sakit, bukan sakit karena berpelukan, bukan karena rindu sudah lepas namun saat salaman tangan terkilir tertekan. tangannya terkilir jatuh saat menyelamatkan diri dari banjir di tempat pengungsian yang licin. Tangis kembali mengalir, namun segera berubah senyum setelah karom meng embus nafas kecil pengganti alkohol di puskesmas.
Makan siang direncanakan. Nasi dan lauk sudah dibawa dari rumah. Setelah berdiskusi singkat dengan “pangerannya” begitu Rosmiati menyebut Anto diputuskan makan di rumah teman. Namun kondisi tak memungkinkan. Akhirnya, di bawah pohon kelengkeng yang teduh, rombongan menggelar makan seadanya.
Ada yang makan pakai piring, ada yang pakai daun pisang. Menunya biasa saja. Tapi hati mereka penuh. Bukan karena rasa, melainkan karena pertemuan.
Saat rombongan pamit pulang, perut kenyang dan pikiran mulai ringan, satu hal baru disadari: seorang anggota rombongan mengenakan celana jeans terbalik. Bukan gaya. Bukan mode. Murni karena terburu-buru ikut berangkat tanpa sempat berpikir.
Tawa pun pecah, tawa yang tidak menertawakan penderitaan, tetapi menertawakan hidup yang bahkan di tengah bencana, masih menyisakan ruang untuk kehangatan.
Banjir telah merampas banyak hal, rumah, harta, kenyamanan. Tapi hari itu, di bawah pohon kelengkeng, dekat parit rumah orang, keluarga menemukan kembali sesuatu yang tak bisa dihanyutkan air, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa setelah bencana, hidup tetap harus dijalani. Kadang dengan air mata. Kadang dengan tawa. Kadang dengan celana terbalik. dan itulah cara manusia bertahan.

PT Pembangunan Lhokseumawe Revitalisasi Jaringan Gas Dukung Pemulihan Pascabencana Banjir

PT Pembangunan Lhokseumawe Revitalisasi Jaringan Gas Dukung Pemulihan Pascabencana Banjir

Lhokseumawe, 09/01/2025 - PT Pembangunan Lhokseumawe (Perseroda) melaksanakan program revitalisasi jaringan gas sebagai bagian dari upaya pemulihan infrastruktur energi pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Lhokseumawe. Program ini bertujuan memastikan kembali keandalan, keselamatan, dan keberlanjutan distribusi gas bumi bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil yang terdampak.

Habibillah, SE., Direktur PT Pembangunan Lhokseumawe menyampaikan bahwa pascabanjir, beberapa titik jaringan gas memerlukan penanganan khusus akibat genangan dan pergeseran tanah. Oleh karena itu, revitalisasi dilakukan melalui pemeriksaan menyeluruh jaringan pipa, perbaikan sistem distribusi, serta peningkatan standar keselamatan untuk meminimalisir kebocoran dan gangguan layanan. “Pemulihan pascabencana banjir menuntut respons cepat dan terukur. Revitalisasi jaringan gas ini kami lakukan untuk memastikan keamanan masyarakat sekaligus memulihkan layanan energi yang sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan aktivitas rumah tangga dan ekonomi,” ujarnya.

Kami mendapatkan arahan dari bapak walikota Lhokseumawe Dr. Sayuti Abubakar, SH., MH.,untuk lebih responsif dalam mendukung pemulihan layanan dasar pascabanjir. Menurutnya, keandalan jaringan gas menjadi bagian penting dalam percepatan pemulihan kehidupan masyarakat. “Setelah banjir, pemulihan infrastruktur dasar harus menjadi prioritas. Revitalisasi jaringan gas ini menunjukkan komitmen PT Pembangunan Lhokseumawe dalam mendukung keselamatan warga dan pemulihan ekonomi daerah pascabencana,” ungkapnya.

Masyarakat penerima manfaat juga menyambut baik program tersebut. Hasan Seorang warga  menyampaikan bahwa pascabanjir, keberlangsungan pasokan gas sangat membantu pemulihan aktivitas rumah tangga dan usaha kecil. “Banjir sempat mengganggu aktivitas kami. Dengan perbaikan jaringan gas ini, kami merasa lebih aman dan terbantu untuk kembali menjalankan kegiatan sehari-hari,” ungkapnya.

Program pemeliharaan jaringan gas ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam membangun ketahanan infrastruktur terhadap bencana, sekaligus mendorong penggunaan energi gas bumi yang lebih bersih dan efisien. PT Pembangunan Lhokseumawe memastikan seluruh tahapan revitalisasi dilakukan secara bertahap, terkoordinasi, dan mengutamakan keselamatan masyarakat, saat ini karyawan kami sedang bertugas dilapangan, dalam berapa hari kedepan pemeliharaaan jaringan gas akan selesai kita lakukan, kita akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk menberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat kota Lhokseumawe.

ISNU Kota Lhokseumawe Beri Layanan Psikologis Klinis pada Anak Trauma Bencana

ISNU Kota Lhokseumawe Beri Layanan Psikologis Klinis pada Anak Trauma Bencana

Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Lhokseumawe bekerja sama dengan komunitas Sahabat Senyum Anak melaksanakan Layanan Psikologis Klinis pada Anak Trauma Bencana, kegiatan tersebut berlangsung di Desa Blang Priya, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, pada Minggu 04 Januari 2026 yaang melibatkan sejumlah anak anak trauma banjir bandang.
Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi psikologis anak-anak yang terdampak bencana, khususnya dalam memulihkan trauma agar Kembali ceria, nyaman dan semangat bermain. Sejumlah relawan yang terdiri dari akademisi, praktisi sosial, konselor, psikolog dan pendamping anak terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan berupa menyanyi, mewarnai sampai pembuatan pohon harapan (menulis harapan di sticky note dan ditempel di kertas karton ) yang digantung pada kertas yang menyerupai pohon, agar anak anak bisa melampiaskan cita-cita dengan cara suka ria.

Sekretaris Umum PC ISNU Kota Lhokseumawe, Ramazana, S. Sos., M.A., menyampaikan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pemulihan mental dan emosional bagi anak-anak kare anak-anak kelompok paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan psikologis Klinis ini kami ingin membantu mereka kembali tersenyum, bermain, dan mengekspresikan perasaan dengan cara yang sehat dan gembira ujar alumni Magister UIN Sunan Kalijaga
Sementara itu, Muhammad Syauki, S. Sos., Gr, perwakilan Sahabat Senyum Anak menjelaskan bahwa kegiatan psikososial dilakukan melalui berbagai metode ramah anak, seperti permainan edukatif, menggambar, bernyanyi, bercerita, serta interaksi kelompok yang bertujuan mengurangi trauma dan kecemasan, “Pendekatan yang kami lakukan merupakan pendekatan empati dan kebersamaan, agar anak-anak merasa tidak sendiri dan kembali merasakan suasana yang menyenangkan,” jelasnya.
Sekretaris Desa Blang Priya Safrijal, mengapresiasi kehadiran ISNU Kota Lhokseumawe dan Sahabat Senyum Anak di tengah masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat membantu anak-anak desa yang masih menunjukkan tanda-tanda ketakutan dan stres setelah bencana, “Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan kepedulian para relawan. Anak-anak terlihat lebih ceria dan berani berinteraksi kembali,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, ISNU Kota Lhokseumawe berharap sinergi antara organisasi kemasyarakatan, komunitas relawan, dan pemerintah dapat terus diperkuat dalam penanganan pascabencana, khususnya dalam aspek pemulihan psikologis Klinis anak sebagai bagian penting dari ketahanan masyarakat di masa depan.

Relawan Kemanusiaan Pemko Lhokseumawe Gelar Bersih Pesantren Darul Maarif

Relawan Kemanusiaan Pemko Lhokseumawe Gelar Bersih Pesantren Darul Maarif
Pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra,  termasuk Aceh. Relawan masih berjuang untuk kemanusiaan, seperti yang dilakukan oleh relawan kemanusiaan pemerintah kota lhokseumawe pada sabtu 3/1/26 melaksanakan kegiatan Bersih Pesantren di Dayah Darul Ma’arif, Desa Samuti, Kecamatan Gandapura-Bireun. Kegiatan ini bertujuan membantu pemulihan lingkungan pesantren agar kembali bersih, sehat, dan layak digunakan untuk aktivitas pendidikan santri.
Kegiatan tersebut melibatkan unsur Kodim 01/03 Aceh Utara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe, serta Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Lhokseumawe. Sinergi lintas instansi ini difokuskan pada pembersihan lumpur, sampah pascabanjir, serta penataan kembali lingkungan pesantren yang terdampak.
Para relawan bersama santri dan pengurus dayah melakukan pembersihan halaman, ruang belajar, asrama, hingga saluran air. DLH Kota Lhokseumawe menurunkan armada pengangkut sampah dan peralatan kebersihan, sementara Damkar membantu penyemprotan area yang terdampak banjir untuk mempercepat proses pemulihan.
Ketua Relawan Kemanusiaan Pemko Lhokseumawe, Habibillah, SE, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari respon kemanusiaan pascabencana. “Banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada kenyamanan dan kesehatan lingkungan pesantren. Melalui kegiatan ini, kami mendapatkan arahan dari bapak Walikota Lhokseumawe  Dr. Sayuti, Abubakar, SH.MH untuk membantu melakukan pembersihan dampak dari banjir bandang dan percepatan pemulihan agar proses belajar bagi santri bisa dimulai kembali, sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan,”
Kami juga melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bapak Danrem 001/LW  kolaborasi lintas sektor. “Sinergi relawan, TNI, dan perangkat daerah menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan aksi nyata yang langsung dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Lettu Inf M. Ali Kepala Regu Kodim 01/03 Aceh Utara menegaskan bahwa keterlibatan TNI merupakan bagian dari tugas pembinaan teritorial dan respon cepat terhadap kondisi pascabencana. “Kami hadir sebagai darma bakti kami untuk membantu masyarakat bangkit pascabanjir. Kegiatan ini sekaligus memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan dayah, kondisi saat ini dayah sangat butuh perhatian pemerintah an masyarakat mengingat parah nya kerusakan yang ditimbulkan dari Fasilitas, sarana dan prasarana Dayah ” ungkapnya.
Pimpinan Dayah Darul Ma’arif menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian seluruh pihak. “Banjir sempat mengganggu aktivitas belajar santri. Kehadiran relawan dan instansi terkait sangat membantu memulihkan lingkungan dayah sehingga kegiatan pendidikan dapat kembali berjalan normal, dan saya mengucapkan ribuan terimakasih kepada bapak Dr.Sayuti Abubakar, SH.MH, Wali Kota Lhokseumawe, Relawan dan TNI yang telah membantu Dayah kami, semoga sinergitas ini terus berlanjut di kemudian hari ,” ujarnya.
Melalui kegiatan Bersih Pesantren pascabencana banjir ini, Relawan Kemanusiaan Pemko Lhokseumawe berharap dapat mendorong pemulihan lingkungan pendidikan keagamaan sekaligus memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial antarwilayah.

Refleksi Komunikasi Islam, Penebangan Liar, dan Hikmah Bencana Alam

 

Membaca Pesan Ilahi di Balik Banjir

Oleh: Ismuhar, M.Sos
Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah


Banjir yang terus berulang di berbagai wilayah Indonesia seharusnya tidak lagi dipahami sekadar sebagai musibah tahunan akibat curah hujan tinggi. Jika dicermati lebih dalam, banjir merupakan peristiwa ekologis yang sarat pesan moral dan spiritual. Ia adalah cermin dari relasi manusia dengan alam yang kian timpang, sekaligus peringatan atas cara manusia memperlakukan lingkungan secara serampangan.

Dalam perspektif Islam, alam bukanlah objek mati yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang berbicara kepada manusia melalui peristiwa-peristiwa alam. Al-Qur’an menegaskan bahwa di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berpikir (QS. Adz-Dzariyat: 20). Dengan demikian, banjir dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi Ilahi yang mengajak manusia untuk merenung dan memperbaiki diri.

Sayangnya, pesan ini sering tereduksi menjadi sekadar wacana takdir. Banjir dianggap sebagai kehendak Tuhan semata, tanpa keberanian mengakui peran besar manusia di balik kerusakan lingkungan. Padahal Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul akibat ulah tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini menempatkan manusia sebagai aktor utama, bukan korban pasif.

Salah satu faktor krusial penyebab banjir adalah maraknya penebangan pohon secara liar. Hutan yang seharusnya menjadi penyangga ekosistem justru habis oleh pembalakan ilegal dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Ketika hutan gundul, daya serap air menurun drastis, sungai meluap, dan banjir menjadi keniscayaan.

Dalam ajaran Islam, tindakan merusak lingkungan tidak pernah dianggap remeh. Nabi Muhammad SAW bahkan memberikan peringatan keras terhadap penebangan pohon tanpa alasan yang dibenarkan. Ini menegaskan bahwa perusakan alam bukan hanya persoalan teknis atau hukum negara, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Dengan kata lain, banjir adalah “konsekuensi etis” dari ketidaktaatan manusia terhadap amanah menjaga bumi.

Namun demikian, Islam tidak memandang bencana hanya sebagai hukuman. Bencana juga mengandung hikmah. Secara spiritual, banjir menyadarkan manusia akan keterbatasannya dan menumbuhkan kembali kesadaran ketergantungan kepada Allah. Di tengah air yang meluap, teknologi dan kekuatan manusia terbukti rapuh. Kesadaran ini semestinya melahirkan kerendahan hati dan tanggung jawab moral.

Secara sosial, banjir kerap memunculkan solidaritas yang luar biasa. Di tengah penderitaan, sekat-sekat sosial dan identitas mencair. Masyarakat saling membantu tanpa bertanya latar belakang. Inilah wajah kemanusiaan yang sejati, nilai yang sejalan dengan prinsip rahmah dan ukhuwah insaniyah dalam Islam.

Secara ekologis, banjir seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif. Diskusi publik tentang hutan, tata ruang, dan kebijakan lingkungan sering kali muncul justru setelah bencana terjadi. Sayangnya, refleksi ini sering bersifat sesaat dan menguap ketika air surut. Di sinilah peran komunikasi Islam menjadi sangat penting.

Komunikasi Islam menekankan etika, kebenaran, dan keberpihakan pada kemaslahatan. Di tengah banjir informasi, hoaks, dan politisasi bencana, Islam mengajarkan prinsip tabayyun—memeriksa dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Narasi publik seharusnya diarahkan pada solusi, bukan saling menyalahkan.

Lebih jauh, dakwah Islam perlu bergerak ke arah dakwah ekologis. Menjaga lingkungan bukan isu pinggiran, melainkan bagian dari iman dan amanah kekhalifahan manusia di bumi. Ulama, pendakwah, dan akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan pentingnya menjaga hutan, menolak penebangan liar, dan mengawal kebijakan lingkungan yang berkeadilan.

Advokasi terhadap lingkungan hidup juga merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Kritik terhadap praktik perusakan alam harus dilakukan secara konsisten, berbasis ilmu, dan berorientasi pada perbaikan. Tanpa keberanian bersuara, bencana akan terus berulang dengan korban yang semakin besar.

Pada akhirnya, banjir adalah pesan. Ia berbicara tentang relasi manusia dengan alam, tentang keserakahan yang tak terkendali, dan tentang peringatan Ilahi yang kerap diabaikan. Pertanyaannya bukan lagi mengapa banjir terjadi, melainkan apakah kita bersedia mendengar dan merespons pesan tersebut dengan perubahan nyata.

Jika komunikasi Islam mampu menghadirkan narasi yang mencerahkan, empatik, dan solutif, maka umat tidak hanya menjadi korban bencana, tetapi juga agen pemulihan lingkungan. Menjaga bumi bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan ibadah yang menentukan masa depan manusia itu sendiri.


Gerak Nyata KPM 35: Bersihkan Material Lama untuk Mendukung Pembangunan Meunasa

Gerak Nyata KPM 35: Bersihkan Material Lama untuk Mendukung Pembangunan Meunasah

Aceh Utara, 6 Desember 2025 — Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) 35 UIN Sultanah Nahrasiyah melaksanakan kegiatan gotong royong bersama warga di halaman Meunasah Desa Ie Tarek 2 sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan fasilitas umum desa. Kegiatan ini dilakukan sebagai persiapan untuk pemasangan paving blok yang direncanakan dalam waktu dekat.

Sejak pagi hari, para mahasiswa bersama pemuda dan masyarakat setempat mulai bergotong royong membersihkan halaman meunasah. Aktivitas yang dilakukan meliputi menyapu area halaman, meratakan tanah, serta mengumpulkan bambu dan kayu yang sudah tidak dapat digunakan. Material yang tidak layak pakai tersebut kemudian dibakar untuk memudahkan pembersihan dan memastikan area meunasah benar-benar siap sebelum pembangunan dimulai.

Ketua kelompok KPM 35 menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja yang bertujuan mendukung pembangunan fisik desa. “Sebagai mahasiswa yang sedang mengabdi, kami ingin memberikan kontribusi terbaik. Pembersihan halaman meunasah ini kami lakukan agar pemasangan paving blok nantinya dapat berjalan lancar dan hasilnya maksimal,” ungkapnya.

Warga setempat menyambut baik inisiatif tersebut. Menurut salah seorang tokoh desa, kehadiran mahasiswa KPM 35 memberikan energi baru bagi masyarakat. Gotong royong ini bukan hanya mempercepat proses persiapan pembangunan, tetapi juga mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga desa. Suasana kebersamaan terlihat jelas ketika warga dan mahasiswa bekerja berdampingan saling membantu.
Kegiatan ditutup dengan sesi istirahat dan makan bersama sebagai simbol terjalinnya kekeluargaan antara mahasiswa KPM 35 dan masyarakat Ie Tarek 2. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan pembangunan halaman meunasah dapat berjalan lebih cepat dan memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh warga desa.

Mahasiswa KPM Kelompok 35 UIN SUNA Lhokseumawe Gelar Sosialisasi Bahaya Pernikahan Dini di SMPN 1 Simpang Keuramat

Mahasiswa KPM Kelompok 35 UIN SUNA Lhokseumawe Gelar Sosialisasi Bahaya Pernikahan Dini di SMPN 1 Simpang Keuramat

Aceh Utara, 2025 — Mahasiswa Kuliah Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) Kelompok 35 UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menggelar sosialisasi mengenai bahaya dan dampak pernikahan dini di SMP Negeri 1 Simpang Keuramat. Kegiatan berlangsung di aula sekolah dan diikuti oleh siswa/i kelas IX, serta beberapa dewan guru.

Sosialisasi dimulai pada pagi hari dengan sambutan pihak sekolah yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KPM dalam memberikan edukasi. Program ini merupakan bagian dari bidang pendidikan dan kesehatan yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai pentingnya mengambil keputusan matang demi masa depan.

Dalam materi yang disampaikan, pemateri KPM menjelaskan berbagai risiko pernikahan dini, mencakup dampak kesehatan, psikologis, dan sosial ekonomi. Para siswa diberikan penjelasan tentang bahaya kehamilan di usia muda, potensi putus sekolah, hingga risiko ketidaksiapan emosional yang dapat memicu konflik dalam rumah tangga.

“Remaja perlu memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Menunda pernikahan demi pendidikan dan persiapan diri merupakan langkah bijak untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Dhia Salsabila salah satu pemateri KPM di hadapan peserta.

Sosialisasi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Banyak siswa mengajukan pertanyaan seputar batas usia pernikahan, faktor penyebab pernikahan dini di masyarakat, serta cara menghadapi tekanan sosial yang mendorong remaja untuk menikah terlalu cepat.

Di penghujung acara, mahasiswa KPM mengajak seluruh siswa untuk memprioritaskan pendidikan, mengasah kemampuan diri, dan membangun cita-cita sebelum memasuki jenjang pernikahan. Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap program serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi sekaligus simbol kolaborasi positif antara mahasiswa KPM dan pihak sekolah di Kecamatan Simpang Keuramat.

Mahasiswa KPM UIN Sultanah Nahrasiyah Bantu Pelaksanaan Posyandu di Gampong Ie Tarek Dua

Mahasiswa KPM UIN Sultanah Nahrasiyah Bantu Pelaksanaan Posyandu di Gampong Ie Tarek Dua

Aceh Utara, 24 November 2025 — Kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) kembali dilaksanakan di Gampong Ie Tarek Dua, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, pada Senin, 24 November 2025. Posyandu kali ini mendapat dukungan penuh dari para mahasiswa KPM UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Kelompok 35, yang ikut membantu secara langsung jalannya kegiatan sejak pagi hari.  Penanggunng jawab pada kegiatan posyandu di desa Ie Tarek Dua yaitu Ibu Cut Ida selaku kader posyandu.

Kegiatan yang berlangsung di Meunasah Gampong Ie Tarek Dua tersebut dihadiri oleh bidan desa yang turun langsung memberikan pelayanan kesehatan, serta kader stunting dari masyarakat setempat, Ibu Rahmi, yang berperan dalam pemantauan tumbuh kembang anak dan pencegahan stunting di gampong.

Pelayanan posyandu meliputi penimbangan balita, pengukuran tinggi badan, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, imunisasi, serta pemberian vitamin dan makanan tambahan. Warga mulai berdatangan sejak pagi, dan suasana posyandu terlihat ramai namun tetap tertib.

Para mahasiswa KPM turut membantu kader dan bidan dalam berbagai kegiatan, mulai dari registrasi dan pendataan, pengaturan alur pemeriksaan, pendampingan warga, hingga membantu penimbangan balita. Kehadiran mahasiswa membuat proses pelayanan menjadi lebih cepat dan terkoordinasi.

Ketua Kelompok KPM 35 Haidar, menyampaikan rasa syukur dapat terlibat dalam kegiatan kesehatan masyarakat tersebut.

> “Kami senang bisa berkontribusi dalam posyandu. Ini menjadi pengalaman yang bermanfaat sekaligus membantu masyarakat, khususnya ibu dan anak,” ujarnya.

Ibu Cut Ida, selaku kader posyandu, mengapresiasi kehadiran mahasiswa.

> “Alhamdulillah kegiatan hari ini berjalan lancar. Mahasiswa sangat membantu dalam pendataan dan pendampingan warga,” tuturnya.

Sementara itu, Ibu Rahmi, kader stunting gampong, juga menyampaikan bahwa kegiatan posyandu penting untuk memantau kondisi anak-anak dan mencegah risiko stunting sejak dini.

> “Dengan adanya mahasiswa, proses pemantauan tumbuh kembang anak lebih ringan. Ini sangat membantu kami dalam pengecekan data stunting,” katanya.

Bidan desa yang hadir turut memberikan apresiasi kepada mahasiswa KPM yang bekerja sigap dan penuh tanggung jawab dalam membantu jalannya kegiatan.

Kegiatan posyandu pada tanggal 24 November 2025 ini berlangsung dengan baik dan tertib. Kehadiran mahasiswa KPM UIN Sultanah Nahrasiyah memberi dampak positif bagi kelancaran pelayanan kesehatan, serta memperkuat kerja sama antara masyarakat dan mahasiswa dalam meningkatkan kesehatan gampong.

Anggota KPM UIN Sultanah Nahrasiyah Gelar Pertemuan dengan KUA Simpang Keuramat Bahas SIWAK dan Akta Ikrar Wakaf

Anggota KPM UIN Sultanah Nahrasiyah Gelar Pertemuan dengan KUA Simpang Keuramat Bahas SIWAK dan Akta Ikrar Wakaf

Aceh Utara, 19 November 2025 — Para peserta Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe mengadakan pertemuan resmi dengan pihak Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Simpang Keuramat pada Rabu, 19 November 2025. Pertemuan ini membahas pelaksanaan SIWAK (Sistem Informasi Wakaf) serta Akta Ikrar Wakaf (AIW) yang nantinya akan diterapkan di masing-masing gampong dengan dukungan aparatur desa.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Bapak Kawaket,  Bapak Kasi, serta para anggota kelompok KPM dari berbagai gampong di Kecamatan Simpang Keuramat. Seluruh peserta berkumpul untuk mendapatkan arahan, penjelasan teknis, dan pemahaman mendalam terkait mekanisme administrasi wakaf yang sesuai dengan regulasi Kementerian Agama.

Dalam penyampaiannya, Bapak Kawaket menjelaskan bahwa mahasiswa KPM memiliki peran strategis dalam membantu KUA dan gampong dalam melakukan pendampingan serta sosialisasi mengenai data wakaf.

> “Mahasiswa KPM sangat berpotensi menjadi penghubung antara KUA dan gampong dalam proses pengumpulan serta penginputan data ke dalam SIWAK,” ujarnya.

Sementara itu, Bapak Kasi menambahkan pentingnya legalitas wakaf melalui pembuatan AIW untuk menjamin ketertiban administrasi dan kepastian hukum.

> “AIW adalah dokumen penting yang harus dimiliki setiap tanah wakaf. Dengan bantuan mahasiswa KPM, kami berharap proses pendataan di setiap gampong dapat berjalan lebih cepat dan akurat,” jelasnya.

Para peserta KPM juga mendapat kesempatan berdiskusi dan saling bertukar pengalaman terkait tantangan dan kebutuhan pendataan wakaf di lapangan. Mereka kemudian diarahkan untuk berkoordinasi dengan aparatur gampong masing-masing, terutama dalam mengumpulkan dokumen pendukung seperti identitas nazhir, lokasi tanah wakaf, serta riwayat pewakaf.

Pertemuan yang berlangsung pada tanggal 19 November 2025 ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kerja sama antara KUA, mahasiswa KPM, dan aparatur gampong. Diharapkan, kegiatan terkait SIWAK dan AIW dapat terlaksana dengan lebih teratur, efektif, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mahasiswa KPM Kelompok 35 UIN Sultanah Nahrasiyah melakukan pertemuan dengan pihak SMP N 1 Simpang Keuramat.

Mahasiswa KPM Kelompok 35 UIN Sultanah Nahrasiyah melakukan pertemuan dengan pihak SMP N 1 Simpang Keuramat.

Aceh Utara, 19 November 2025 — Para peserta Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe melakukan kunjungan dan pertemuan resmi dengan pihak SMP Negeri 1 Simpang Keuramat pada Rabu, 20 November 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas pelaksanaan program sosialisasi yang akan dilaksanakan di sekolah tersebut pada hari Senin 24 November 2025 dengan mengangkat tema besar “Pergaulan Bebas”, serta dua topik utama, yaitu “Dampak Pernikahan Dini” dan “Stop Bullying.”

Kedatangan mahasiswa KPM disambut langsung oleh salah satu perwakilan pihak sekolah, yaitu guru Pendidikan Jasmani (Penjas), Bapak Yusuf, yang mewakili jajaran pihak sekolah dalam menerima dan berdiskusi dengan para mahasiswa.

Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa KPM menjelaskan tujuan utama kegiatan sosialisasi, yaitu memberikan pemahaman, edukasi, serta pencegahan dini terhadap perilaku yang berdampak negatif bagi siswa, khususnya berkaitan dengan pergaulan bebas, kekerasan di lingkungan sekolah, dan risiko pernikahan dini.

Koordinator KPM (Haidar) menyampaikan bahwa sosialisasi ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga pergaulan yang sehat serta memahami bahaya perilaku menyimpang.

> “Kami ingin memberikan edukasi yang tepat dan dapat dipahami oleh siswa, sehingga mereka memiliki kesadaran untuk menjaga diri, menghormati sesama, dan menjauhi tindakan bullying,” ujarnya.

Sementara itu, Bapak Yusuf, selaku perwakilan SMPN 1 Simpang Keuramat, menyambut baik program yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa KPM.

> “Kami sangat mendukung sosialisasi ini. Pendidikan seperti ini sangat penting untuk mencegah perilaku menyimpang dan membantu siswa memahami konsekuensinya sejak dini,” ungkapnya.

Pertemuan berlangsung dengan lancar, di mana kedua belah pihak berdiskusi mengenai jadwal pelaksanaan, metode penyampaian, serta sasaran siswa yang akan mengikuti sosialisasi. Mahasiswa KPM juga menyampaikan konsep materi dan rancangan kegiatan yang akan dibawakan, sehingga pihak sekolah dapat menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan siswa.

Dengan adanya kunjungan dan pertemuan ini, diharapkan pelaksanaan sosialisasi nantinya dapat berjalan dengan efektif serta memberikan dampak positif bagi siswa SMPN 1 Simpang Keuramat sebagai bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam edukasi sosial masyarakat.

Inovasi Lidi Sawit di Alue Badee: UMKM Lokal Berkembang, Mahasiswa KPM Saksikan Proses Produksi

Inovasi Lidi Sawit di Alue Badee: UMKM Lokal Berkembang, Mahasiswa KPM Saksikan Proses Produksi

Aceh Utara – Masyarakat Gampong Alue Badee, Kecamatan Simpang Keramat, berhasil mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah pelepah kelapa sawit menjadi produk lidi bernilai ekonomis. Limbah pelepah sawit yang sebelumnya dibiarkan membusuk di kebun, kini menjadi sumber penghasilan bagi warga.

Kegiatan pengolahan ini dilakukan oleh kelompok ibu-ibu rumah tangga dengan memanfaatkan pelepah sawit yang melimpah di sekitar desa. Pemanfaatan pelepah sawit dinilai lebih menguntungkan karena lidi sawit dikenal lebih kuat dan lentur dibandingkan lidi dari pelepah kelapa, sehingga kualitasnya lebih diminati untuk berbagai kebutuhan industri rumah tangga.

Pengolahan dilakukan secara manual mulai dari mengumpulkan pelepah hasil pangkasan, memisahkan lidi dari daun, menjemur hingga kering sempurna, kemudian mengikatnya menjadi satu sebelum dijual sebagai bahan baku.

Salah satu pelaku usaha, Bu Halimah, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi ekonomi keluarganya. “Saya hanya menjual lidi keringnya saja, bukan sapu. Biasanya saya menjual dengan harga sekitar Rp3.500 hingga Rp5.000 per kilogram. Alhamdulillah, hasilnya cukup membantu kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Saat ini, pemasaran lidi kering dari Gampong Alue Badee masih pada lingkup lokal, khususnya wilayah Simpang Keramat dan sekitarnya. Meski belum menembus pasar luar daerah, masyarakat tetap optimis usaha ini dapat berkembang lebih besar ke depannya.

Kegiatan ini juga turut disaksikan oleh mahasiswa KPM UIN Suna Kelompok 8, yang berkunjung langsung ke lokasi. Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa melihat proses produksi dari dekat dan ikut membantu pada tahap sederhana, yakni memisahkan daun dari lidinya. Kehadiran mereka disambut baik oleh warga karena dianggap memberi perhatian pada UMKM lokal.

Program pemanfaatan limbah sawit ini menjadi bukti bahwa potensi desa dapat berkembang melalui kolaborasi, inovasi sederhana, serta pemanfaatan sumber daya yang seringkali terabaikan. Upaya ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada kebersihan lingkungan sekitar.

Rapat Perdana Persiapan MTQ Desa Cempeudak bersama Pemuda dan Pembina di Balai Al-Anshar Mahasiswa KPM Kelompok 45 UIN Sultanah Nahrasiyah Siap Berkolaborasi

Rapat Perdana Persiapan MTQ Desa Cempeudak bersama Pemuda dan Pembina di Balai Al-Anshar Mahasiswa KPM Kelompok 45 UIN Sultanah Nahrasiyah Siap Berkolaborasi

Aceh utara- dalam upaya menyukseskan rencana pelaksanaan MTQ tingkat desa, aparatur Desa Cempeudak bersama mahasiswa KPM kelompok 45 UIN Sultanah Nahrasiyah menggelar rapat perdana untuk membahas konsep kegiatan serta arah kolaborasi antar pihak. Rapat tersebut berlangsung dalam suasana hangat, penuh diskusi, dan tetap fokus pada penyusunan rencana kerja yang matang.
Pada awalnya, mahasiswa KPM kelompok 45 merencanakan untuk mengadakan musabaqah kecil-kecilan sebagai penutup kegiatan pengabdian mereka di desa cempeudak. Namun, saat pertemuan rersmi bersama perangkat gampong, muncul dorongan dan arahan agar kegiatan tersebut tidak hanya menjadi program internal mahasiswa, melainkan juga melibatkan pemuda dan pembina desa agar manfaatnya lebih luas dan pelaksanaannya semakin terstruktur.
Mendengar saran tersebut, mahasiswa KPM menyambut baik gagasan kolaborasi. Mereka menilai bahwa keterlibatan pemuda desa akan memberi warna baru, memperkuat kebersamaan, sekaligus menumbuhkan rasa kepedulian generasi muda terhadap kepedulian generasi muda terhadap kegiatan keagamaan di gampong.
Maka dari itu, perlu diadakan rapat lanjutan bersama para pembina desa di balai Al-Anshar. Dalam kegiatan tersebut, para pembina memberikan pandangan mengenai teknis-teknis kegiatan, mulai dari pembagian cabang lomba, jadwal latihan peserta, hingga persiapan tempat pelaksanaan. Mahasiswa KPM juga ikut dilibatkan langsung sebagai tim pembina, sehingga proses pelatihan dan pengorganisasian bisa berjalan lebih maksimal.
Disana kami tidak hanya membahas teknis MTQ, kami juga memperkuat kerja sama antara mahasiswa dan perangkat gampong. Dalam rapat tersebut banyak ide baru yang muncul, terutama mengenai bagaimana kegiatan ini bisa menjadi wadah pembinaan Al-Qur’an bagi anak-anak dan remaja, bukan sekadar perlombaan formal semata.
Dengan adanya kolaborasi antara mahasiswa KPM kelompok 45 dan pemuda Gampong Cempeudak, pelaksanaan MTQ tahun ini diharapkan dapat berjalan lebih meriah, terarah, dan memberikan kesan positif bagi masyarakat. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum penguatan nilai religius, sekaligus bukti nyata bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat desa mampu melahirkan program yang bermanfaat dan berkelanjutan.

Mahasiswa KPM Kelompok 35 UIN Sultanah Nahrasiyah Gelar Senam Pagi Bersama Anak-Anak di Gampong Ie Tarek Dua

Mahasiswa KPM Kelompok 35 UIN Sultanah Nahrasiyah Gelar Senam Pagi Bersama Anak-Anak di Gampong Ie Tarek Dua

Aceh Utara, Minggu — Para peserta Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) kelompok 35 UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe melaksanakan kegiatan senam pagi bersama anak-anak di lapangan bola Gampong Ie Tarek Dua, Kecamatan Simpang Keuramat. Kegiatan ini berlangsung pada pagi hari Minggu dengan penuh antusias dan keceriaan dari seluruh peserta.

Senam pagi ini digagas sebagai salah satu program kerja mahasiswa KPM dalam rangka meningkatkan kesehatan, kebugaran, dan semangat aktivitas fisik bagi anak-anak di gampong. Sejak pukul 08.00 WIB, anak-anak sudah mulai berkumpul di lapangan bola bersama para mahasiswa untuk mengikuti rangkaian gerakan senam yang energik.

Ketua kelompok KPM, Haidar Shidqan, menjelaskan bahwa senam pagi merupakan kegiatan positif yang dapat membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini.

> “Kami ingin anak-anak terbiasa bergerak aktif, menjaga kebugaran, dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari kegiatan mingguan mereka,” ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana terlihat penuh semangat. Para mahasiswa turut mendampingi dan memandu gerakan, sementara anak-anak mengikuti dengan penuh kegembiraan. Selain itu, mahasiswa KPM juga menyelipkan games ringan dan motivasi agar kegiatan terasa lebih menyenangkan.

Sementara itu, aparatur gampong Ie Tarek Dua menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang diprakarsai mahasiswa KPM.

> “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. Mereka bukan hanya sehat, tapi juga termotivasi untuk beraktivitas positif,” ungkap salah satu perangkat desa.

Kegiatan senam pagi ini diharapkan dapat menjadi kebiasaan rutin di Gampong Ie Tarek Dua serta menumbuhkan budaya hidup sehat di kalangan anak-anak dan masyarakat.

Gampong Cempeudak: Bentuk Dukungan terhadap Program Mahasiswa KPM

Rapat Bersama Aparatur Gampong Cempeudak: Bentuk Dukungan terhadap Program Mahasiswa KPM Kelompok 45 UIN Sultanah Nahrasiyah berkelanjutan

Aparatur Gampong Ceumpeudak bersama mahasiswa KPM Kelompok 45 Rapat Pembahasan Program Kerja Desa.
Aceh Utara, 8 November 2025 – Sebanyak 14 aparatur Gampong Cempeudak, Kecamatan Kuta Makmur, menghadiri rapat bersama mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 45 dari UIN Sultanah Nahrasiyah Kota Lhokseumawe.
Rapat yang digelar pada hari sabtu ba’da salat Isya ini turut dihadiri oleh Geuchik Gampong Cempeudak beserta sekretaris, bendahara, Ketua Tuha Peut serta aparatur gampong lainnya.
Dalam pertemuan perdana yang berlangsung penuh keakraban tersebut, aparatur gampong menyambut kehadiran mahasiswa dengan tangan terbuka dan menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh pelaksanaan program kerja (proker) selama masa pengabdian. Mereka berharap agar kegiatan yang dijalankan mahasiswa dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi kemajuan desa.
Geuchik Gampong Cempeudak yang baru saja dilantik sekitar seminggu yang lalu menyampaikan komitmennya untuk mendukung penuh pelaksanaan program pengabdian mahasiswa. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya menyediakan berbagai fasilitas dan kebutuhan yang diperlukan agar mahasiswa dapat menjalankan kegiatan dengan optimal. Salah satu sebagai wujud nyata dukungan, aparatur gampong dan mahasiswa KPM berencana untuk menghidupkan kegiatan keagamaan di menasah dan masjid, melaksanakan gotong royong bersama masyarakat serta membantu menata kembali struktur organisasi Gampong Cempeudak yang baru agar sistem pemerintahan desa semakin tertata dan efisien. Selain itu, mereka juga berupaya mewujudkan digitalisasi gampong melalui pembuatan profil desa dan pengembangan akun media sosial resmi Gampong Ceumpeudak sebagai sarana publikasi dan transparansi  informasi kepada masyarakat. Harapannya, media sosial tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi dan publikasi berita berkualitas, sehingga desa semakin dikenal luas oleh masyarakat luar.
Ketua Tuha Peut, Muhammad Anis mauliza, juga menegaskan pentingnya penerapan nilai-nilai keislaman dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan di Gampong Cempeudak. Ia mengapresiasi langkah mahasiswa KPM yang telah berinisiatif mengajar ngaji serta mengadakan les bagi anak-anak gampong sebagai upaya peningkatan pengetahuan agama dan kemampuan belajar mereka. “Kami sangat mendukung kegiatan mahasiswa, terutama yang membantu membentuk karakter Islami generasi muda di gampong ini,” ujar Muhammad Anis mauliza,  dalam rapat tersebut’’.
Selain itu, Muhammad Anis mauliza juga mengajak mahasiswa KPM untuk berkolaborasi dengan para pemuda gampong cempeudak dalam menyukseskan kegiatan keagamaan di desa. Awalnya, mahasiswa KPM memiliki proker untuk mengadakan musabaqah kecil-kecilan sebagai bagian dari penutupan kegiatan pengabdian. Namun, melihat adanya kesamaan tujuan, pihak gampong mengusulkan agar kegiatan tersebut dikolaborasikan dengan MTQ tingkat gampong. 
“Mahasiswa KPM memang sebelumnya berencana mengadakan musabaqah kecil-kecilan di akhir masa pengabdian. Karena tujuannya sejalan dengan program gampong, kami mengajak adik-adik mahasiswa untuk berkolaborasi bersama pemuda dalam kegiatan MTQ tingkat gampong yang akan di adakan dalam waktu dekat ini dan adik-adik mahasiwa juga masih mengabdi disini”, Ujar Muhammad Anis mauliza 
Selain mendukung kegiatan keagamaan, aparatur Gampong Ceumpeudak juga berharap agar para mahasiswa dapat lebih dekat dengan anak-anak desa melalui kegiatan sosialisasi langsung di SD Negeri 8 Kuta Makmur, yang merupakan sekolah dasar di wilayah gampong tersebut. Aparatur gampong menilai, kehadiran mahasiswa di lingkungan sekolah dapat memberikan motivasi dan pengalaman baru bagi para siswa.
Selain itu, mereka juga menyarankan agar mahasiswa turut melaksanakan sosialisasi bersama ibu-ibu yang ada di Gampong Cempeudak sebagai upaya mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat kebersamaan di Tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, aparatur Gampong Cempeudak menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para mahasiswa KPM, khususnya yang berasal dari luar Aceh seperti dari Medan, atas semangat dan kontribusi aktif mereka selama melaksanakan pengabdian di gampong tersebut. Keberagaman asal dan latar belakang mahasiswa dinilai membawa dampak positif bagi masyarakat, karena mampu menciptakan suasana saling belajar dan memperkuat nilai kebersamaan antarwarga.
Rapat koordinasi yang digelar pun berlangsung dengan lancar dan diakhiri dalam suasana penuh kehangatan serta rasa kekeluargaan. Melalui kerja sama antara aparatur gampong dan mahasiswa KPM, diharapkan Gampong Cempeudak dapat terus tumbuh sebagai desa yang maju, religius, berdaya saing, serta terbuka terhadap inovasi dan perkembangan digital demi kemajuan masyarakatnya.
 
Copyright © 2016 Radio CitisFm lhokseumawe Aceh