BREAKING

Latest Posts

12 Pah Tangga Lagu Aceh Citis FM Edisi Sabtu, 24 Januari 2026


Lhokseumawe – Radio Citis FM Aceh 94,4 MHz kembali merilis 12 Pah Tangga Lagu Aceh edisi Sabtu, 24 Januari 2026, yang menampilkan deretan lagu-lagu Aceh terbaik dan terfavorit pilihan pendengar setia Citis FM.
Pada pekan ini, lagu “Ie Raya Teuka” yang dibawakan oleh Haji Uma berhasil menduduki posisi puncak tangga lagu Citis FM. Lagu tersebut terus mendapat respons positif dari pendengar dan menjadi salah satu lagu paling sering diputar selama sepekan terakhir.
Di posisi berikutnya, Nurul Munira dengan lagu “Hana Sipadan” menempati peringkat kedua, disusul Puep Suloh melalui lagu “Salah Meucinta” di posisi ketiga. Sementara itu, Mustafa Kamal dengan lagu “Meuligoe Sipanyeong Dua” bertahan kuat di jajaran lima besar.
Pendatang baru juga turut meramaikan tangga lagu minggu ini. Lagu “Pancuri Boh Sukon” dari M Rizal serta “Rasa” yang dibawakan Raehan resmi masuk sebagai new entry, menambah warna baru dalam industri musik Aceh.
Program 12 Pah Tangga Lagu Aceh disiarkan secara live setiap pekan dan menjadi wadah apresiasi bagi musisi Aceh untuk memperkenalkan karya terbaik mereka kepada masyarakat luas.
Pendengar setia dapat terus mendukung lagu favoritnya dengan request dan voting melalui siaran Radio Citis FM Aceh 94,4 MHz serta kanal resmi Citis FM.
🎶 Citis FM – Yang Terbaik Hanya Untuk Anda 🎶

Kisah Penyintas Banjir - Pisang Selamat dari Banjir dan Doa yang Tidak Pernah Putus

Kisah Penyintas Banjir - Pisang Selamat dari Banjir dan Doa yang Tidak Pernah Putus

Sabtu, 17 Januari 2026, bagi kami bukan sekadar tanggal. ini adalah janji yang akhirnya lunas. Janji yang berkali-kali ditunda, dibatalkan, lalu disimpan kembali dengan perasaan bersalah. Janji untuk menjenguk seorang kawan seangkatan kuliah, Qurrata Aina yang namanya kami dengar lebih sering lewat kabar banjir daripada lewat tawa di ruang kelas.
Banjir akhir 2025 itu, kata orang, datang tanpa sopan santun. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi aba-aba. Ia datang seperti tamu tak diundang yang menganggap semua rumah adalah miliknya. Muara Batu, Aceh Utara, termasuk wilayah yang disebut-sebut “kategori berat” sebuah istilah administratif yang terdengar rapi, tapi menyimpan cerita berantakan.
Pagi itu kami bangun lebih awal dari biasanya. Setelah salat subuh, tak seorang pun kembali ke kasur. Ada semangat yang membuat mata enggan terpejam, meski tubuh belum sepenuhnya sadar. Saya sarapan terburu-buru, mandi lebih lama dari biasanya, menggosok gigi seperti hendak wawancara kerja, lalu menyisir rambut dengan niat berlebihan. Seolah kerapian bisa menjadi bentuk empati.
Rival datang menjemput. “Saya sudah siap,” katanya singkat. Ari dan Kurdi pun sama siap secara moral, meski motor kami lebih cocok disebut siap pasrah.
Kami bertiga meluncur dari Lhokseumawe. Jalanan menyuguhkan lubang-lubang yang tampaknya ikut menjadi korban banjir, atau mungkin korban lama yang baru kami perhatikan. Menyalip lubang menjadi olahraga pagi. Salah hitung sedikit, bisa ikut masuk berita.
Empat puluh menit kemudian, kami tiba.
“Alhamdulillah hari ini bisa jumpa teman kami yang periang,” ujar Ari, dengan senyum lega yang tak bisa disembunyikan. Kata periang terasa penting seolah menjadi jaminan bahwa luka tidak sepenuhnya mengalahkan manusia.
Rumah Qurrata menyambut kami dengan keheningan yang sopan. Ia keluar, tersenyum, lalu mempersilakan masuk. Kami menolak halus. “Di luar saja,” kata kami. Angin banyak, katanya. Padahal kami tahu, ada luka yang lebih nyaman diceritakan di ruang terbuka.
Sebuah tikar digelar di gubuk kecil di depan rumah. Gubuk itu menghadap sawah, yang pagi itu tampak tenang, seakan tidak pernah menyimpan cerita air bah. Angin sepoi-sepoi berhembus, seperti ucapan selamat datang dari alam yang merasa sedikit bersalah.
Di sekitar kami, barang-barang berlumpur masih tergeletak. Ember, kayu, perabot semuanya seperti arsip visual tentang hari-hari ketika air lebih berkuasa daripada manusia.
Di sisi kanan gubuk, dua tandan pisang wak terbaring. Tidak sepenuhnya matang. Tidak pula busuk. Seperti menunggu waktu yang tepat.
“Ini pisang selamat dari banjir,” kata Qurrata sambil tersenyum. “Silakan dimakan. Insyaallah berkah.”
Kami tertawa. Tertawa yang cepat, seakan ingin menutup perasaan lain yang mulai naik ke tenggorokan. Kurdi langsung mengambil satu. “Kalau sudah dibilang berkah, haram hukumnya menolak,” katanya. Tawa pecah lagi.
Minuman berwarna merah disajikan. Gelas-gelas bening dengan embun tipis di dindingnya. Belum sempat tuan rumah mempersilakan, sebagian dari kami sudah mencicipi. “Godaan itu nyata,” ujar Rival, pura-pura menyesal.
Qurrata duduk bersama kakaknya. Cerita pun dimulai.
Saat banjir datang, Qurrata tidak di rumah. Ia masih di ma’had, di kawasan kampus di Lhokseumawe. Ia ingin pulang, tapi kabar yang datang justru kabar buruk. Wilayahnya disebut paling parah. Jaringan komunikasi terputus. Telepon menjadi benda mati.
“Hari-hari itu saya tidak bisa tidur,” katanya pelan. “Setiap malam tahajud. Berdoa supaya keluarga selamat.”
Ia berhenti sejenak. Matanya menatap sawah, bukan kami.
“Makan tidak selera. Rasanya mau nangis terus.”
Ilmu tetap dibaca, tapi hati tertinggal di rumah yang tidak bisa ia datangi.
Kisah lalu berpindah ke sang kakak. Suaranya lebih datar, seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk dramatis.
Air datang subuh Rabu, 26 November 2025. Selutut. Dingin. Gelap. Mereka bertiga ayah, ibu, dan kakak terbangun dan langsung bergerak. Tidak banyak kata. Tidak ada kepanikan yang sempat dipelajari. Hanya refleks menyelamatkan diri.
Mereka berpegangan tangan menuju meunasah. Arus kuat. Tubuh saling menjaga agar tidak terlepas. Kakak sempat mengambil baju untuk menghangatkan badan, juga untuk ganti. Sampai di meunasah, baju itu sudah basah. Semua basah.
Dua hari di meunasah tanpa makan. Hari ketiga, barulah ada biskuit. Dibeli dari kios desa tetangga yang selamat. Biskuit itu, kata sang kakak, terasa seperti makanan paling serius dalam hidupnya.
Dokumen penting saya selamat. Punya adik adik basah semua, rumah mereka berubah menjadi kolam kenangan yang tidak ingin diingat. Hampir sebulan mengungsi. Berminggu-minggu tidak mandi karena air bersih juga ikut menjadi korban.
Gubuk tempat kami duduk ini pun menyimpan kisah. Empat orang selamat di sini karena tidak sempat ke meunasah. Di pohon mangga tak jauh dari kami, empat warga lain bertahan hidup. Pohon itu kini berdiri biasa saja. Seolah lupa pernah menjadi tempat bergantung nyawa, kenang sang kakak sambil menunjuk pohon mangga.
Kami terdiam. Lalu tertawa lagi. Karena begitulah cara manusia bertahan, mencampur luka dengan humor agar tidak tenggelam sepenuhnya.
Waktu berjalan tanpa terasa. Pukul 13.00 WIB kami pamit. Azan Zuhur sudah dekat. Dalam perjalanan pulang, kami melihat rumah-rumah yang miring, tergerus, sebagian seperti menyerah pada tanah.
Terima kasih, kawan. Dalam musibah, kau masih menjamu kami. Dalam duka, kau tetap mempraktikkan peumulia jamee. Seharusnya kami yang datang membawa hidangan, bukan pulang membawa pelajaran.
Dan pisang yang selamat dari banjir itu rasanya kok beda ya, seperti buah yang diturunkan dari syurga untuk kami, tapi ceritanya akan lama tinggal di ingatan. Terimakasih qurrata semoga kamu kuat sabar dan tawakkal selalu pada-Nya!!!

Relawan Pemko Lhokseumawe Gotong Royong Tutup Lubang Jalan Nasional

Relawan Pemko Lhokseumawe Gotong Royong Tutup Lubang Jalan Nasional

Lhokseumawe - Relawan Pemerintah Kota Lhokseumawe bersama unsur organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan melaksanakan aksi gotong royong menutup sejumlah lubang pada ruas jalan nasional yang melintasi wilayah Kota Lhokseumawe, Kamis, 15-01-2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan sekaligus respon cepat atas kondisi jalan yang membahayakan.

Aksi gotong royong tersebut melibatkan relawan kemanusiaan Pemko Lhokseumawe, aparatur pemerintah, serta organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Dengan peralatan seadanya dan material penimbun sementara, para relawan menutup lubang-lubang jalan yang selama ini kerap memicu kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara roda dua.

Habibillah, SE., Koordinator Relawan Pemko Lhokseumawe menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah darurat untuk meminimalisir risiko kecelakaan sembari menunggu penanganan permanen dari instansi berwenang. “Keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Meski jalan nasional Medan-Banda Aceh merupakan kewenangan pemerintah pusat, kami merasa perlu hadir untuk mencegah jatuhnya korban,” ujarnya.

Ismail warga setempat menyambut positif aksi tersebut dan mengapresiasi kepedulian relawan Pemko Lhokseumawe. Menurut warga, kondisi jalan berlubang semakin parah pascahujan dan banjir beberapa waktu lalu, sehingga membutuhkan penanganan cepat.

Dr. Sayuti Abubakar, SH., MH., Wali Kota Lhokseumawe memberikan arahan kepada seluruh relawan melakukan kegiatan tanggap darurat terhadap keselamatan publik. Menurutnya, aksi gotong royong ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan kehadiran pemerintah di tengah persoalan masyarakat.
“Gotong royong ini adalah langkah darurat demi keselamatan masyarakat. Meski jalan nasional merupakan kewenangan pemerintah pusat, Pemerintah Kota Lhokseumawe tidak bisa tinggal diam ketika kondisi jalan berpotensi membahayakan warga, dan kami terus mendorong agar penanganan menyeluruh segera direalisasikan sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman,” ujar Wali Kota Lhokseumawe.

Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata semangat kolaborasi antara pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan fasilitas publik di Kota Lhokseumawe.

Kisah penyintas BanjirSarung Basah yang Selamat dari Banjir

Kisah penyintas Banjir
Sarung Basah yang Selamat dari Banjir

Hujan turun sejak siang, tanpa jeda, tanpa ragu, seolah langit sedang menunaikan tugas yang terlalu lama ditunda. Kamis, 27 November 25 itu, hujan menjadi latar yang dianggap biasa oleh warga BTN komplek perumahan BTN Beijing Mutiara residence 1 Desa Metro kp. Durian kecamatan Rantau kabupaten Aceh Tamiang Kuala Simpang, Kawasan ini dikenal cukup tinggi cukup aman, cukup jauh dari bayangan banjir. Terlalu jauh, bahkan, untuk menumbuhkan rasa curiga.
Rosmiati terlelap lebih cepat malam itu, dengan pakaian tidur paling romantis versi emak rumah tangga, daster kesayangannya,  menyerahkan tubuhnya pada dingin dan suara hujan yang terasa menenangkan. Sementara itu, suaminya, Surianto ( Anto- sapaannya ) masih sempat memantau keadaan sekitar pukul 23.00 WIB. Tak ada genangan. Tak ada tanda bahaya. hanya hujan yang setia.
Sekitar pukul 00.15 WIB, Anto akhirnya ikut merebahkan badan. Lelah bekerja seharian, Belum juga kepalanya benar-benar menyatu dengan bantal, teriakan itu membelah malam.
“Banjir! Banjir!”
Anto meloncat. Kakinya menyentuh lantai. Air sudah setinggi betis.
Anto  terdiam sejenak. Anehnya, ia tidak langsung membangunkan istrinya. Dalam benaknya yang masih setengah mengantuk, setengah panik, banjir setinggi itu belum pantas mengusik tidur perempuan yang ia cintai. Cuma segini, pikirnya. Biarlah istriku tidur nyenyak. Mungkin begitulah cinta bekerja sering kali tidak logis, bahkan di tengah ancaman.
Namun air tak mengerti perasaan manusia, sekitar pukul satu dini hari, genangan naik setinggi lutut. Kali ini Anto tak bisa lagi menunda. Ia membangunkan Ros sambil dengan lembut.
“Sayang, bangun. Air masuk rumah.”
Panik datang berdua. Kulkas diangkat ke dapur. Baju-baju diselamatkan dari lemari bawah. Mereka bekerja cepat, tergesa, seolah sedang berpacu dengan waktu yang bocor. Baru tiga puluh menit berjuang, jeritan dari luar rumah terdengar lebih liar.
“Ke bukit! Air besar!”
Malam itu, perumahan berubah menjadi kepanikan massal. warga berlarian sambil menangis. Ada yang menggendong bantal seolah mimpi masih bisa diselamatkan. Ada yang memikul beras. Ada yang menenteng sepatu. Dalam situasi seperti itu, logika tertinggal paling awal.
Anto menggenggam tangan Ros. Air sudah setinggi dada orang dewasa, lantai licin. Ros hampir terjatuh dan refleks berpegangan pada tubuh suaminya. Dalam kepanikan, yang terpegang justru bagian celana Anto. Sekali tarik celana itu melorot.
Seandainya bukan banjir. seandainya bukan malam yang menyerupai kiamat kecil. Mungkin itu akan jadi cerita lucu yang mereka tertawakan sambil ngopi di teras rumah.
Namun malam itu, tak ada yang lucu. Bagi warga perumahan BTN Beijing Mutiara residence 1 Desa Metro kp. Durian kecamatan Rantau kabupaten Aceh Tamiang, malam itu adalah hari ketika manusia berlari sambil menangis, bukan tertawa.
Mereka selamat namun rumah mereka porak poranda beserta isi didalamnya. Plafon runtuh. Lemari pakaian terendam. Springbed basah seperti spons putus asa. Televisi, kulkas, motor rusak berat. Laptop tertinggal, tenggelam bersama pekerjaan dan harapan kecil. Anto hanya membawa tas selempang kosong, ironi paling telanjang dari bencana yang penting sering tertinggal, yang tak penting justru terbawa ikut.
Di bukit pengungsian, tubuh mereka menggigil. Basah, lelah, dan kedinginan. Anto sempat ingin turun kembali ke rumah mengambil kain agar istrinya bisa hangat. Namun pintu rumah tak bisa dibuka. Arus air di teras mengamuk, kencang seperti kereta api cepat.
Beruntung, di jemuran tertinggal dua kain sarung yang sudah basah, tapi tetap berarti. Dengan kain itulah Anto menghangatkan tubuh Ros malam itu. Cinta, rupanya tidak seperti syair lagu yang butuh modal besar, kadang ia hanya berupa kain basah yang dipeluk erat agar seseorang tidak tumbang.
Di bukit itu, warga berkumpul tanpa atap. hanya daun-daun pohon kuda yang menjadi pelindung sementara. Baru keesokan harinya, tenda biru bantuan TNI didirikan. Tanpa dinding, tanpa kenyamanan yang penting tidak kehujanan. 
Hari-hari pengungsian dilalui dengan serba seadanya. Makan tak menentu. Buang hajat di sela rerumputan, cebok dengan air keruh bekas banjir yang tergenang. Gosok gigi pun tak sempat karena tertinggal bersama di rumah. Kesedihan itu terlalu dalam untuk sekadar diceritakan namun bisa dirasakan.
Setelah banjir surut tapi bekasnya tinggal lama di dinding, di perabot, di tubuh, dan di ingatan, namun di antara semua yang hanyut, ada satu hal yang tetap bertahan mereka masih bersama, dan kelak ketika luka sudah mengering, kisah celana melorot itu mungkin akan diceritakan sambil tersenyum kecil sebab dalam bencana, manusia kehilangan banyak hal, tetapi cinta sering kali memilih untuk tinggal bersama dan bersemi.
Kunjungan Keluarga Janji di Simpang Paya Bedi

Bencana itu datang seperti ingatan buruk yang tiba-tiba hidup kembali. Tahun 2025, banjir bandang dan longsor melanda Aceh dan dua provinsi lain di Sumatra dengan kedahsyatan yang membuat seorang gubernur menyebutnya lebih parah dari tsunami 2004. Jalan nasional terputus, jembatan roboh, tiang listrik tumbang seperti batang korek, jaringan komunikasi mati total. Malam-malam menjadi sunyi yang menakutkan, sunyi tanpa kabar.
Dalam sunyi itulah kegelisahan menjalar dari satu rumah ke rumah lain. Seorang ibu memikirkan anaknya, anak memikirkan orang tuanya, kakak merisaukan adiknya, adik mengingat kakaknya. Semua saling mengingat, tetapi tak bisa saling menghubungi. Listrik padam. Sinyal menghilang. Dunia mendadak terasa kembali ke tahun 1980-an, hidup hanya bergantung pada janji dan keyakinan.
Pekan kedua setelah banjir, jaringan mulai hidup tersendat. Kabar singkat akhirnya tiba, Rosmiati dan suaminya, Anto, selamat. Mereka mengungsi di wilayah pedalaman Aceh Tamiang. Kabar itu cukup untuk membuat keluarga besar menarik napas Panjang, lalu bersepakat untuk berangkat menbezuk, memastikan dengan mata sendiri bahwa kabar itu benar.
Musyawarah kecil dilakukan ditunjuklah salbiyah adik Rosmiati yang di Julok sebagai ketua rombongan (karom ), istilah sederhana untuk tanggung jawab yang besar. Rombongan dikumpulkan,  dari Lhokseumawe, Julok, hingga Bayeun. Anak-anak, orang tua, suami-istri, semua disatukan oleh satu tujuan, bertemu keluarga yang baru saja lolos dari amukan alam.
Pickup tua milik kakak Rosmiati dipilih sebagai kendaraan utama. Bukan kendaraan mewah, tapi paling masuk akal untuk medan yang belum pasti. Barang-barang dinaikkan, orang-orang menyusul. Dewasa dan anak-anak berdesakan di bak, menikmati angin alam dengan perasaan campur aduk, cemas, rindu, dan sedikit harap.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Jalan jebol, rumah rusak, pagar roboh. Tenda-tenda darurat berdiri seadanya di pinggir jalan. Anak-anak kecil meminta-minta makanan, bukan dengan rengekan, melainkan tatapan yang terlalu cepat dewasa. Pickup melaju perlahan, kadang menyalip lubang-lubang jalan seperti orang tua yang menghindari kenangan pahit.
Janji temu disepakati di Simpang Paya Bedi, Kuala Simpang. Tak ada telepon. Tak ada pesan, hanya janji lama, siapa yang lebih dulu tiba, menunggu, hujan atau panas, tetap menunggu.
Rombongan tiba lebih dulu. Menunggu. Sepuluh menit, dua puluh menit, empat puluh menit. Gelisah mulai merambat. takut jika salah simpang. takut jika janji terlewat begitu saja.
Lalu dari kejauhan, dua sosok muncul dengan menggunakan motor.
Rosmiati mengenakan celana bonggol, sepatu pacuk, dan kaos sederhana. Anto bercelana jeans dan kaos oblong, tas ransel di punggung. Wajah mereka lelah, kurang tidur, tetapi anehnya tetap memancarkan ketenangan orang-orang yang sudah melewati batas takut.
Pertemuan itu pecah seperti bendungan emosi. tangis dan tawa berbaur. Pelukan panjang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Mama, kakak, adik, sepupu semua saling memastikan bahwa yang dipeluk ini nyata, masih hidup, masih bernapas.
Di tengah pelukan, Rosmiati menjerit kecil, aduhhh sakit, bukan sakit karena berpelukan, bukan karena rindu sudah lepas namun saat salaman tangan terkilir tertekan. tangannya terkilir jatuh saat menyelamatkan diri dari banjir di tempat pengungsian yang licin. Tangis kembali mengalir, namun segera berubah senyum setelah karom meng embus nafas kecil pengganti alkohol di puskesmas.
Makan siang direncanakan. Nasi dan lauk sudah dibawa dari rumah. Setelah berdiskusi singkat dengan “pangerannya” begitu Rosmiati menyebut Anto diputuskan makan di rumah teman. Namun kondisi tak memungkinkan. Akhirnya, di bawah pohon kelengkeng yang teduh, rombongan menggelar makan seadanya.
Ada yang makan pakai piring, ada yang pakai daun pisang. Menunya biasa saja. Tapi hati mereka penuh. Bukan karena rasa, melainkan karena pertemuan.
Saat rombongan pamit pulang, perut kenyang dan pikiran mulai ringan, satu hal baru disadari: seorang anggota rombongan mengenakan celana jeans terbalik. Bukan gaya. Bukan mode. Murni karena terburu-buru ikut berangkat tanpa sempat berpikir.
Tawa pun pecah, tawa yang tidak menertawakan penderitaan, tetapi menertawakan hidup yang bahkan di tengah bencana, masih menyisakan ruang untuk kehangatan.
Banjir telah merampas banyak hal, rumah, harta, kenyamanan. Tapi hari itu, di bawah pohon kelengkeng, dekat parit rumah orang, keluarga menemukan kembali sesuatu yang tak bisa dihanyutkan air, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa setelah bencana, hidup tetap harus dijalani. Kadang dengan air mata. Kadang dengan tawa. Kadang dengan celana terbalik. dan itulah cara manusia bertahan.
 
Copyright © 2016 Radio CitisFm lhokseumawe Aceh