Kisah penyintas Banjir
Sarung Basah yang Selamat dari Banjir
Hujan turun sejak siang, tanpa jeda, tanpa ragu, seolah langit sedang menunaikan tugas yang terlalu lama ditunda. Kamis, 27 November 25 itu, hujan menjadi latar yang dianggap biasa oleh warga BTN komplek perumahan BTN Beijing Mutiara residence 1 Desa Metro kp. Durian kecamatan Rantau kabupaten Aceh Tamiang Kuala Simpang, Kawasan ini dikenal cukup tinggi cukup aman, cukup jauh dari bayangan banjir. Terlalu jauh, bahkan, untuk menumbuhkan rasa curiga.
Rosmiati terlelap lebih cepat malam itu, dengan pakaian tidur paling romantis versi emak rumah tangga, daster kesayangannya, menyerahkan tubuhnya pada dingin dan suara hujan yang terasa menenangkan. Sementara itu, suaminya, Surianto ( Anto- sapaannya ) masih sempat memantau keadaan sekitar pukul 23.00 WIB. Tak ada genangan. Tak ada tanda bahaya. hanya hujan yang setia.
Sekitar pukul 00.15 WIB, Anto akhirnya ikut merebahkan badan. Lelah bekerja seharian, Belum juga kepalanya benar-benar menyatu dengan bantal, teriakan itu membelah malam.
“Banjir! Banjir!”
Anto meloncat. Kakinya menyentuh lantai. Air sudah setinggi betis.
Anto terdiam sejenak. Anehnya, ia tidak langsung membangunkan istrinya. Dalam benaknya yang masih setengah mengantuk, setengah panik, banjir setinggi itu belum pantas mengusik tidur perempuan yang ia cintai. Cuma segini, pikirnya. Biarlah istriku tidur nyenyak. Mungkin begitulah cinta bekerja sering kali tidak logis, bahkan di tengah ancaman.
Namun air tak mengerti perasaan manusia, sekitar pukul satu dini hari, genangan naik setinggi lutut. Kali ini Anto tak bisa lagi menunda. Ia membangunkan Ros sambil dengan lembut.
“Sayang, bangun. Air masuk rumah.”
Panik datang berdua. Kulkas diangkat ke dapur. Baju-baju diselamatkan dari lemari bawah. Mereka bekerja cepat, tergesa, seolah sedang berpacu dengan waktu yang bocor. Baru tiga puluh menit berjuang, jeritan dari luar rumah terdengar lebih liar.
“Ke bukit! Air besar!”
Malam itu, perumahan berubah menjadi kepanikan massal. warga berlarian sambil menangis. Ada yang menggendong bantal seolah mimpi masih bisa diselamatkan. Ada yang memikul beras. Ada yang menenteng sepatu. Dalam situasi seperti itu, logika tertinggal paling awal.
Anto menggenggam tangan Ros. Air sudah setinggi dada orang dewasa, lantai licin. Ros hampir terjatuh dan refleks berpegangan pada tubuh suaminya. Dalam kepanikan, yang terpegang justru bagian celana Anto. Sekali tarik celana itu melorot.
Seandainya bukan banjir. seandainya bukan malam yang menyerupai kiamat kecil. Mungkin itu akan jadi cerita lucu yang mereka tertawakan sambil ngopi di teras rumah.
Namun malam itu, tak ada yang lucu. Bagi warga perumahan BTN Beijing Mutiara residence 1 Desa Metro kp. Durian kecamatan Rantau kabupaten Aceh Tamiang, malam itu adalah hari ketika manusia berlari sambil menangis, bukan tertawa.
Mereka selamat namun rumah mereka porak poranda beserta isi didalamnya. Plafon runtuh. Lemari pakaian terendam. Springbed basah seperti spons putus asa. Televisi, kulkas, motor rusak berat. Laptop tertinggal, tenggelam bersama pekerjaan dan harapan kecil. Anto hanya membawa tas selempang kosong, ironi paling telanjang dari bencana yang penting sering tertinggal, yang tak penting justru terbawa ikut.
Di bukit pengungsian, tubuh mereka menggigil. Basah, lelah, dan kedinginan. Anto sempat ingin turun kembali ke rumah mengambil kain agar istrinya bisa hangat. Namun pintu rumah tak bisa dibuka. Arus air di teras mengamuk, kencang seperti kereta api cepat.
Beruntung, di jemuran tertinggal dua kain sarung yang sudah basah, tapi tetap berarti. Dengan kain itulah Anto menghangatkan tubuh Ros malam itu. Cinta, rupanya tidak seperti syair lagu yang butuh modal besar, kadang ia hanya berupa kain basah yang dipeluk erat agar seseorang tidak tumbang.
Di bukit itu, warga berkumpul tanpa atap. hanya daun-daun pohon kuda yang menjadi pelindung sementara. Baru keesokan harinya, tenda biru bantuan TNI didirikan. Tanpa dinding, tanpa kenyamanan yang penting tidak kehujanan.
Hari-hari pengungsian dilalui dengan serba seadanya. Makan tak menentu. Buang hajat di sela rerumputan, cebok dengan air keruh bekas banjir yang tergenang. Gosok gigi pun tak sempat karena tertinggal bersama di rumah. Kesedihan itu terlalu dalam untuk sekadar diceritakan namun bisa dirasakan.
Setelah banjir surut tapi bekasnya tinggal lama di dinding, di perabot, di tubuh, dan di ingatan, namun di antara semua yang hanyut, ada satu hal yang tetap bertahan mereka masih bersama, dan kelak ketika luka sudah mengering, kisah celana melorot itu mungkin akan diceritakan sambil tersenyum kecil sebab dalam bencana, manusia kehilangan banyak hal, tetapi cinta sering kali memilih untuk tinggal bersama dan bersemi.
Kunjungan Keluarga Janji di Simpang Paya Bedi
Bencana itu datang seperti ingatan buruk yang tiba-tiba hidup kembali. Tahun 2025, banjir bandang dan longsor melanda Aceh dan dua provinsi lain di Sumatra dengan kedahsyatan yang membuat seorang gubernur menyebutnya lebih parah dari tsunami 2004. Jalan nasional terputus, jembatan roboh, tiang listrik tumbang seperti batang korek, jaringan komunikasi mati total. Malam-malam menjadi sunyi yang menakutkan, sunyi tanpa kabar.
Dalam sunyi itulah kegelisahan menjalar dari satu rumah ke rumah lain. Seorang ibu memikirkan anaknya, anak memikirkan orang tuanya, kakak merisaukan adiknya, adik mengingat kakaknya. Semua saling mengingat, tetapi tak bisa saling menghubungi. Listrik padam. Sinyal menghilang. Dunia mendadak terasa kembali ke tahun 1980-an, hidup hanya bergantung pada janji dan keyakinan.
Pekan kedua setelah banjir, jaringan mulai hidup tersendat. Kabar singkat akhirnya tiba, Rosmiati dan suaminya, Anto, selamat. Mereka mengungsi di wilayah pedalaman Aceh Tamiang. Kabar itu cukup untuk membuat keluarga besar menarik napas Panjang, lalu bersepakat untuk berangkat menbezuk, memastikan dengan mata sendiri bahwa kabar itu benar.
Musyawarah kecil dilakukan ditunjuklah salbiyah adik Rosmiati yang di Julok sebagai ketua rombongan (karom ), istilah sederhana untuk tanggung jawab yang besar. Rombongan dikumpulkan, dari Lhokseumawe, Julok, hingga Bayeun. Anak-anak, orang tua, suami-istri, semua disatukan oleh satu tujuan, bertemu keluarga yang baru saja lolos dari amukan alam.
Pickup tua milik kakak Rosmiati dipilih sebagai kendaraan utama. Bukan kendaraan mewah, tapi paling masuk akal untuk medan yang belum pasti. Barang-barang dinaikkan, orang-orang menyusul. Dewasa dan anak-anak berdesakan di bak, menikmati angin alam dengan perasaan campur aduk, cemas, rindu, dan sedikit harap.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Jalan jebol, rumah rusak, pagar roboh. Tenda-tenda darurat berdiri seadanya di pinggir jalan. Anak-anak kecil meminta-minta makanan, bukan dengan rengekan, melainkan tatapan yang terlalu cepat dewasa. Pickup melaju perlahan, kadang menyalip lubang-lubang jalan seperti orang tua yang menghindari kenangan pahit.
Janji temu disepakati di Simpang Paya Bedi, Kuala Simpang. Tak ada telepon. Tak ada pesan, hanya janji lama, siapa yang lebih dulu tiba, menunggu, hujan atau panas, tetap menunggu.
Rombongan tiba lebih dulu. Menunggu. Sepuluh menit, dua puluh menit, empat puluh menit. Gelisah mulai merambat. takut jika salah simpang. takut jika janji terlewat begitu saja.
Lalu dari kejauhan, dua sosok muncul dengan menggunakan motor.
Rosmiati mengenakan celana bonggol, sepatu pacuk, dan kaos sederhana. Anto bercelana jeans dan kaos oblong, tas ransel di punggung. Wajah mereka lelah, kurang tidur, tetapi anehnya tetap memancarkan ketenangan orang-orang yang sudah melewati batas takut.
Pertemuan itu pecah seperti bendungan emosi. tangis dan tawa berbaur. Pelukan panjang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Mama, kakak, adik, sepupu semua saling memastikan bahwa yang dipeluk ini nyata, masih hidup, masih bernapas.
Di tengah pelukan, Rosmiati menjerit kecil, aduhhh sakit, bukan sakit karena berpelukan, bukan karena rindu sudah lepas namun saat salaman tangan terkilir tertekan. tangannya terkilir jatuh saat menyelamatkan diri dari banjir di tempat pengungsian yang licin. Tangis kembali mengalir, namun segera berubah senyum setelah karom meng embus nafas kecil pengganti alkohol di puskesmas.
Makan siang direncanakan. Nasi dan lauk sudah dibawa dari rumah. Setelah berdiskusi singkat dengan “pangerannya” begitu Rosmiati menyebut Anto diputuskan makan di rumah teman. Namun kondisi tak memungkinkan. Akhirnya, di bawah pohon kelengkeng yang teduh, rombongan menggelar makan seadanya.
Ada yang makan pakai piring, ada yang pakai daun pisang. Menunya biasa saja. Tapi hati mereka penuh. Bukan karena rasa, melainkan karena pertemuan.
Saat rombongan pamit pulang, perut kenyang dan pikiran mulai ringan, satu hal baru disadari: seorang anggota rombongan mengenakan celana jeans terbalik. Bukan gaya. Bukan mode. Murni karena terburu-buru ikut berangkat tanpa sempat berpikir.
Tawa pun pecah, tawa yang tidak menertawakan penderitaan, tetapi menertawakan hidup yang bahkan di tengah bencana, masih menyisakan ruang untuk kehangatan.
Banjir telah merampas banyak hal, rumah, harta, kenyamanan. Tapi hari itu, di bawah pohon kelengkeng, dekat parit rumah orang, keluarga menemukan kembali sesuatu yang tak bisa dihanyutkan air, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa setelah bencana, hidup tetap harus dijalani. Kadang dengan air mata. Kadang dengan tawa. Kadang dengan celana terbalik. dan itulah cara manusia bertahan.