BREAKING

Kisah Penyintas Banjir - Pisang Selamat dari Banjir dan Doa yang Tidak Pernah Putus

Kisah Penyintas Banjir - Pisang Selamat dari Banjir dan Doa yang Tidak Pernah Putus

Sabtu, 17 Januari 2026, bagi kami bukan sekadar tanggal. ini adalah janji yang akhirnya lunas. Janji yang berkali-kali ditunda, dibatalkan, lalu disimpan kembali dengan perasaan bersalah. Janji untuk menjenguk seorang kawan seangkatan kuliah, Qurrata Aina yang namanya kami dengar lebih sering lewat kabar banjir daripada lewat tawa di ruang kelas.
Banjir akhir 2025 itu, kata orang, datang tanpa sopan santun. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi aba-aba. Ia datang seperti tamu tak diundang yang menganggap semua rumah adalah miliknya. Muara Batu, Aceh Utara, termasuk wilayah yang disebut-sebut “kategori berat” sebuah istilah administratif yang terdengar rapi, tapi menyimpan cerita berantakan.
Pagi itu kami bangun lebih awal dari biasanya. Setelah salat subuh, tak seorang pun kembali ke kasur. Ada semangat yang membuat mata enggan terpejam, meski tubuh belum sepenuhnya sadar. Saya sarapan terburu-buru, mandi lebih lama dari biasanya, menggosok gigi seperti hendak wawancara kerja, lalu menyisir rambut dengan niat berlebihan. Seolah kerapian bisa menjadi bentuk empati.
Rival datang menjemput. “Saya sudah siap,” katanya singkat. Ari dan Kurdi pun sama siap secara moral, meski motor kami lebih cocok disebut siap pasrah.
Kami bertiga meluncur dari Lhokseumawe. Jalanan menyuguhkan lubang-lubang yang tampaknya ikut menjadi korban banjir, atau mungkin korban lama yang baru kami perhatikan. Menyalip lubang menjadi olahraga pagi. Salah hitung sedikit, bisa ikut masuk berita.
Empat puluh menit kemudian, kami tiba.
“Alhamdulillah hari ini bisa jumpa teman kami yang periang,” ujar Ari, dengan senyum lega yang tak bisa disembunyikan. Kata periang terasa penting seolah menjadi jaminan bahwa luka tidak sepenuhnya mengalahkan manusia.
Rumah Qurrata menyambut kami dengan keheningan yang sopan. Ia keluar, tersenyum, lalu mempersilakan masuk. Kami menolak halus. “Di luar saja,” kata kami. Angin banyak, katanya. Padahal kami tahu, ada luka yang lebih nyaman diceritakan di ruang terbuka.
Sebuah tikar digelar di gubuk kecil di depan rumah. Gubuk itu menghadap sawah, yang pagi itu tampak tenang, seakan tidak pernah menyimpan cerita air bah. Angin sepoi-sepoi berhembus, seperti ucapan selamat datang dari alam yang merasa sedikit bersalah.
Di sekitar kami, barang-barang berlumpur masih tergeletak. Ember, kayu, perabot semuanya seperti arsip visual tentang hari-hari ketika air lebih berkuasa daripada manusia.
Di sisi kanan gubuk, dua tandan pisang wak terbaring. Tidak sepenuhnya matang. Tidak pula busuk. Seperti menunggu waktu yang tepat.
“Ini pisang selamat dari banjir,” kata Qurrata sambil tersenyum. “Silakan dimakan. Insyaallah berkah.”
Kami tertawa. Tertawa yang cepat, seakan ingin menutup perasaan lain yang mulai naik ke tenggorokan. Kurdi langsung mengambil satu. “Kalau sudah dibilang berkah, haram hukumnya menolak,” katanya. Tawa pecah lagi.
Minuman berwarna merah disajikan. Gelas-gelas bening dengan embun tipis di dindingnya. Belum sempat tuan rumah mempersilakan, sebagian dari kami sudah mencicipi. “Godaan itu nyata,” ujar Rival, pura-pura menyesal.
Qurrata duduk bersama kakaknya. Cerita pun dimulai.
Saat banjir datang, Qurrata tidak di rumah. Ia masih di ma’had, di kawasan kampus di Lhokseumawe. Ia ingin pulang, tapi kabar yang datang justru kabar buruk. Wilayahnya disebut paling parah. Jaringan komunikasi terputus. Telepon menjadi benda mati.
“Hari-hari itu saya tidak bisa tidur,” katanya pelan. “Setiap malam tahajud. Berdoa supaya keluarga selamat.”
Ia berhenti sejenak. Matanya menatap sawah, bukan kami.
“Makan tidak selera. Rasanya mau nangis terus.”
Ilmu tetap dibaca, tapi hati tertinggal di rumah yang tidak bisa ia datangi.
Kisah lalu berpindah ke sang kakak. Suaranya lebih datar, seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk dramatis.
Air datang subuh Rabu, 26 November 2025. Selutut. Dingin. Gelap. Mereka bertiga ayah, ibu, dan kakak terbangun dan langsung bergerak. Tidak banyak kata. Tidak ada kepanikan yang sempat dipelajari. Hanya refleks menyelamatkan diri.
Mereka berpegangan tangan menuju meunasah. Arus kuat. Tubuh saling menjaga agar tidak terlepas. Kakak sempat mengambil baju untuk menghangatkan badan, juga untuk ganti. Sampai di meunasah, baju itu sudah basah. Semua basah.
Dua hari di meunasah tanpa makan. Hari ketiga, barulah ada biskuit. Dibeli dari kios desa tetangga yang selamat. Biskuit itu, kata sang kakak, terasa seperti makanan paling serius dalam hidupnya.
Dokumen penting saya selamat. Punya adik adik basah semua, rumah mereka berubah menjadi kolam kenangan yang tidak ingin diingat. Hampir sebulan mengungsi. Berminggu-minggu tidak mandi karena air bersih juga ikut menjadi korban.
Gubuk tempat kami duduk ini pun menyimpan kisah. Empat orang selamat di sini karena tidak sempat ke meunasah. Di pohon mangga tak jauh dari kami, empat warga lain bertahan hidup. Pohon itu kini berdiri biasa saja. Seolah lupa pernah menjadi tempat bergantung nyawa, kenang sang kakak sambil menunjuk pohon mangga.
Kami terdiam. Lalu tertawa lagi. Karena begitulah cara manusia bertahan, mencampur luka dengan humor agar tidak tenggelam sepenuhnya.
Waktu berjalan tanpa terasa. Pukul 13.00 WIB kami pamit. Azan Zuhur sudah dekat. Dalam perjalanan pulang, kami melihat rumah-rumah yang miring, tergerus, sebagian seperti menyerah pada tanah.
Terima kasih, kawan. Dalam musibah, kau masih menjamu kami. Dalam duka, kau tetap mempraktikkan peumulia jamee. Seharusnya kami yang datang membawa hidangan, bukan pulang membawa pelajaran.
Dan pisang yang selamat dari banjir itu rasanya kok beda ya, seperti buah yang diturunkan dari syurga untuk kami, tapi ceritanya akan lama tinggal di ingatan. Terimakasih qurrata semoga kamu kuat sabar dan tawakkal selalu pada-Nya!!!
 
Copyright © 2016 Radio CitisFm lhokseumawe Aceh